Setahun Aku Jalan Pagi Diam-Diam karena Takut Dibilang Egois. Ternyata Hanya Aku yang Peduli.

wanita berjalan di lingkungan pagi hari perawatan diri tanpa rasa bersalah

Written by

in

Dulu, hampir setiap pagi saya mengalami ritual yang sama: bangun, pakai sepatu, berdiri di depan pintu, lalu mengurungkan niat. Bukan karena hujan. Bukan karena capek. Tapi karena muncul satu suara di kepala yang bilang, “Ini masih jam segini, kerjaan belum satu pun tersentuh, kamu mau jalan-jalan aja?”

Suara itu punya banyak argumen. Cucian piring semalam masih numpuk. Email klien sudah masuk tiga biji sejak subuh. Pasangan masih tidur, enak banget kamu keluar sendiri. Dan untuk apa sih jalannya? Buat apa? Memangnya kamu atlet? Nanti aja kalau semua urusan sudah beres.

Lucunya, semua argumen itu terdengar logis di kepala saya. Saya beneran percaya bahwa waktu untuk diri sendiri adalah hadiah yang harus diperjuangkan dulu. Kerjakan semuanya, baru boleh istirahat. Balas semua chat, baru boleh keluar rumah. Produktif minimal delapan jam, baru boleh duduk diam tanpa rasa bersalah. Rasanya seperti ada meteran tak kasat mata yang mengukur seberapa “pantas” saya mendapat jatah tenang. Saya belum mengerti bahwa ‘perawatan diri tanpa rasa bersalah‘ bukanlah hadiah yang harus diperjuangkan dulu — ia adalah kebutuhan dasar yang tidak perlu izin siapa pun..

Saya tidak tahu persis kapan aturan absurd ini mulai tertanam. Mungkin dari melihat ibu-ibu di sekitar saya yang selalu sibuk dan jarang terlihat santai. Mungkin dari budaya yang mengglorifikasi hustle dan menganggap istirahat sebagai kemalasan. Atau mungkin memang saya saja yang terlalu keras sama diri sendiri. Apapun sumbernya, hasilnya tetap sama: saya tidak bisa melakukan hal kecil yang menyenangkan untuk diri sendiri tanpa rasa bersalah yang menggerogoti.

Jalan pagi yang selalu saya sembunyikan: awal mula belajar ‘perawatan diri tanpa rasa bersalah

Saya mulai rutin jalan pagi sekitar dua tahun lalu. Niat awalnya sederhana: menggerakkan kaki sebelum menatap layar seharian. Bukan untuk membakar kalori, bukan buat konten Strava, bukan juga supaya glowing. Cuma biar otak saya lebih adem sebelum berhadapan dengan deadline dan notifikasi.

Dua puluh menit. Itu saja. Keliling kompleks, tanpa ponsel, tanpa podcast, tanpa agenda. Saya perhatikan pohon mangga tetangga yang mulai berbuah, saya lambaikan tangan ke kakek yang tiap pagi jalanin anjingnya yang kakinya cuma tiga, saya balik sebelum siapa pun di rumah bahkan ganti posisi tidur.

Tapi ini yang aneh: selama enam bulan pertama, saya memperlakukan jalan pagi ini seperti misi rahasia. Kalau pasangan saya kebangun pas saya mau keluar, saya langsung bisik, “mau ambil minum aja,” seolah-olah jalan kaki adalah kejahatan yang harus ditutupi. Kalau ada teman yang tanya jam berapa saya bangun, saya jawab normatif: “ah biasa aja.” Saya sengaja menghilangkan bagian di mana saya memprioritaskan kaki dan paru-paru sendiri di atas tumpukan baju kotor.

Saya bukan bohong untuk melindungi siapa pun. Saya malu. Malu karena sebagai perempuan dewasa dengan seabrek tanggung jawab, saya malah keluyuran jam setengah tujuh pagi tanpa alasan produktif sedikit pun. Padahal tidak ada satu orang pun yang meminta saya membuat laporan pertanggungjawaban. Rasa bersalah itu murni bikinan sendiri.

Skincare saya cuma tiga langkah, bukan dua belas

Di periode yang sama, saya juga memangkas rutinitas skincare saya sampai ke level paling dasar: sabun cuci muka, pelembap, sunscreen. Titik. Tidak ada serum dari tanaman langka Amazon. Tidak ada alat pijat muka yang getar dan berubah warna. Tidak ada ritual menunggu dua puluh menit antar lapisan seperti apoteker di lab.

Dulu saya sering insecure lihat feed Instagram yang isinya rak kamar mandi kayak gudang Sephora. Sepuluh langkah ritual, glass skin, active ingredients yang saya bahkan tidak bisa menyebutkan namanya dengan benar. Untuk waktu yang cukup lama, saya percaya bahwa merawat kulit berarti membeli lebih banyak, melakukan lebih banyak, dan membaca lebih banyak. Realitanya? Saya tidak pernah bertahan. Produknya saya beli, saya pakai seminggu, lalu jadi pajangan berdebu di meja rias sementara saya kembali cuci muka pakai air kran.

Tiga langkah ini bisa saya jalani justru karena ia tidak menuntut apa-apa. Dan yang saya pelajari kemudian: ritualnya sendiri, enam puluh detik memijat wajah dengan sabun, sensasi dingin pelembap di pipi, itu jauh lebih berarti dibanding isi botolnya. Ia semacam sinyal kecil yang bilang: kamu ada, dan kamu berhak merawat diri sendiri, meskipun rumah berantakan dan inbox penuh.

Jurnal yang tidak akan pernah dibaca siapa pun

Saya juga nulis jurnal. Tapi bukan yang modelnya ada prompt dan daftar syukur dan habit tracker warna-warni. Jurnal saya berantakan. Separuh isinya diawali dengan kalimat “aku nggak tahu mau nulis apa.” Beberapa halaman cuma satu baris. Beberapa lainnya adalah omelan marah tentang orang yang sebenarnya saya sayangi, ditulis dengan emosi yang tidak akan pernah saya ungkapkan langsung. Ejaannya kacau. Tulisan tangannya makin jelek kalau saya lagi emosi.

Saya dulu pikir journaling baru sah kalau hasilnya seperti yang muncul di Pinterest: rapi, penuh kutipan bermakna, alur pertumbuhan pribadi yang jelas. Jurnal saya lebih mirip percakapan dengan orang yang belum minum kopi. Dan justru itu kenapa ia bekerja. Tidak ada yang akan membacanya. Saya sendiri paling juga tidak akan membaca ulang. Aktivitas menulisnya sendiri yang memperlambat otak saya cukup lama supaya pikiran berhenti mental-mentul di dalam kepala.

Sepuluh menit. Itu saja. Kadang saya nulis sambil nyeruput kopi, masih pakai piyama, masih kesal sama kejadian kemarin. Tidak ada yang tepuk tangan. Tidak ada stiker penghargaan. Hadiahnya cuma satu: setelah itu kepala terasa sedikit lebih enteng.

Satu pagi hujan yang mengubah segalanya

Saya bisa tunjuk persis momen ketika pola pikir saya berubah. Saat itu saya sudah setahun lebih rutin jalan pagi diam-diam. Pagi itu gerimis, jenis hujan rintik yang bikin semuanya bau tanah basah dan daun. Saya tetap keluar, pakai jaket lusuh, dan pas pulang dalam kondisi setengah basah, pasangan saya sedang di dapur bikin kopi.

“Dari mana?” tanyanya.

“Jalan pagi,” jawab saya, sambil bersiap untuk… apa ya? Pertanyaan lanjutan. Komentar sinis. Sindiran soal piring kotor.

“Asyik,” katanya. “Mau kopi?”

Cuma itu. Setahun lebih saya dihantui rasa bersalah karena aktivitas yang cuma makan waktu dua puluh menit dan biayanya nol rupiah, dan ternyata satu-satunya orang yang peduli adalah saya sendiri. Pasangan saya tidak diam-diam mencatat tingkat keegoisan saya. Teman-teman saya tidak bergosip tentang kelancangan saya. Piring-piring kotor di wastafel, ajaibnya, tetap utuh meskipun saya pergi dua puluh menit.

Dari situ saya mulai mikir: ternyata ‘perawatan diri tanpa rasa bersalah‘ itu bukan tentang nambah ritual, tapi tentang berhenti menghukum diri sendiri. Berapa banyak lagi hal kecil yang selama ini saya tahan dari diri sendiri karena merasa belum pantas? Tiduran lima belas menit setelah makan siang padahal saya tidak cukup ngantuk untuk tidur siang tapi juga tidak mau berdiri. Bilang “nggak” ke ajakan nongkrong tanpa memberikan penjelasan tiga paragraf. Tidur jam sembilan malam bukan karena sakit, tapi karena memang pengen. Semua hal remeh. Semua hal yang entah kenapa saya cap sebagai egois.

Batasan yang tidak perlu dimintai maaf

Buat saya sekarang, perawatan diri lebih banyak soal batasan. Lebih ke apa yang saya setop toleransi daripada apa yang saya tambahkan ke rutinitas. Grup chat yang getar jam sebelas malam, saya mute. Kenalan yang tiap ketemu bawaannya curhat terus kayak saya terapis gratis, jadwal saya makin susah buat dia. Suara internal yang selalu membisikkan “satu email lagi, satu tugas lagi, tahan dikit lagi”, saya sudah belajar untuk melawan balik.

Ngomong “tidak” kadang memang masih bikin nggak enak. Saya pernah menulis soal ini juga, tentang bagaimana saya akhirnya belajar bilang tidak tanpa perlu menjelaskan diri. Tapi rasa tidak enaknya sekarang lebih cepat hilang. Yang bertahan justru kelegaan. Satu jam tambahan. Keheningan. Pengetahuan bahwa saya memilih ketenangan sendiri di atas kenyamanan orang lain.

Saya tidak sedang bicara soal jadi orang yang cuek atau tidak peduli. Saya bicara soal penolakan-penolakan kecil yang kalau dijumlahkan ternyata besar: tidak angkat telepon pas lagi makan, pulang duluan dari acara karena baterai sosial sudah habis, bilang “aku butuh waktu sebentar” dan benar-benar mengambil waktu itu. Ini bukan aksi heroik. Saya cuma berhenti minta maaf karena ada.

Perawatan diri tanpa rasa bersalah‘ tidak perlu embel-embel mahal

Coba sekarang buka Google, tik “self-care.” Yang akan Anda temukan: lilin aromaterapi seharga makan dua hari, subscription box bulanan, garam mandi yang lebih mahal dari seporsi steak, dan artikel yang nyuruh Anda bangun jam lima pagi, journaling sejam, meditasi, yoga, dan minum jus seledri. Semuanya sudah dikemas jadi sesuatu yang aspiratif, mahal, dan jujur saja, melelahkan.

Versi self-care yang begitu tidak pernah cocok buat saya. Konsep ‘perawatan diri tanpa rasa bersalah‘ yang saya jalani justru kebalikannya — makin sederhana, makin ampuh.. Yang benar-benar bekerja justru jauh lebih kecil dan jauh kurang fotogenik. Saya sudah cerita sebelumnya bahwa rutinitas self-care saya memang kecil dan membosankan, dan justru itu kenapa ia bertahan. Tidak ada yang layak di-Instagram. Tidak ada sponsor yang akan tertarik mensponsori jalan kaki saya keliling kompleks. Dan itu intinya: perawatan diri yang benar-benar membantu tidak menjual apa pun ke Anda.

Jadi inilah bentuk perawatan diri saya sekarang: jalan pagi dua puluh menit tanpa ponsel, cuci muka tiga langkah, dan sepuluh menit menulis jurnal berantakan. Tidak glamor. Tidak mahal. Tidak butuh aplikasi. Tapi semua ini bertahan lebih lama dari produk serum apapun yang pernah saya beli.

Buat kamu yang merasa egois saat meluangkan waktu untuk diri sendiri

Saya ingin bilang sesuatu ke siapa pun yang membaca ini dan mengenali rasa bersalah yang saya deskripsikan. Rasa bersalah yang merayap pas kamu duduk baca buku sementara masih ada cucian yang belum dilipat. Yang membisikkan “hari ini kamu belum ngapa-ngapain” pas kamu merem sepuluh menit. Yang bikin kamu jelaskan panjang lebar kenapa kamu perlu istirahat, seolah-olah jadi manusia butuh justifikasi.

Rasa bersalah itu ditanamkan. Mungkin oleh media sosial yang menampilkan hidup semua orang serba produktif. Mungkin oleh lingkungan kerja yang menganggap burnout sebagai dedikasi. Mungkin oleh orang-orang bermaksud baik yang mengajarkan bahwa pengorbanan diri sama dengan kebaikan. Rasa bersalah itu bukan berasal dari kamu, dan kamu tidak perlu terus menyiraminya.

Saya tidak bilang ini gampang dihilangkan. Saya butuh lebih dari setahun jalan pagi sembunyi-sembunyi sebelum akhirnya bisa mengakui dengan lantang bahwa ya, saya jalan pagi tanpa alasan, cuma karena saya suka. Bahkan sekarang pun, saat menulis ini, masih ada bagian kecil dari saya yang khawatir saya terkesan pemalas atau narsis. Tapi suara itu makin pelan tiap kali saya abaikan. Dan soal menjadi morning person? Saya dulu juga merasa harus jadi morning person dulu baru boleh punya rutinitas sendiri. Ternyata saya cuma harus berhenti minta izin.

Kamu tidak perlu “pantas” dulu sebelum boleh istirahat. Kamu tidak perlu produktif delapan jam sebelum boleh duduk diam. Kamu tidak perlu rutinitas dua belas langkah atau lilin seharga steak. Kadang perawatan diri tanpa rasa bersalah itu sesimpel membiarkan dirimu ada tanpa merasa buruk karenanya. Kadang ia adalah jalan kaki di tengah gerimis saat tidak ada yang lihat. Kadang ia adalah mencuci muka dan pakai sunscreen bahkan di hari ketika kamu tidak berencana keluar rumah, karena kamulah rencananya.

Comments

One response to “Setahun Aku Jalan Pagi Diam-Diam karena Takut Dibilang Egois. Ternyata Hanya Aku yang Peduli.”

  1. […] pergulatan antara mengurus semua orang dan ingat bahwa saya juga ada, di tulisan saya tentang merasa egois karena jalan pagi sendirian. Benang merahnya sama: saya nggak bisa ngasih anak saya alat emosi yang saya sendiri nggak punya. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *