Kali pertama anak saya yang umur empat tahun melempar balok kayu ke tembok, mulut saya langsung ngomong persis kayak ibu saya dulu: “Udah, jangan nangis. Nggak apa-apa.” Kata-kata itu meluncur begitu aja, refleks, sebelum otak sempat mikir. Padahal jelas dia nggak baik-baik aja. Balok kayu nggak mungkin terbang ke tembok kalau semuanya oke. Tapi “nggak apa-apa” itu naskah yang saya punya, naskah yang saya tumbuh besar bersamanya, naskah yang rasanya benar sampai akhirnya saya lihat wajah mungilnya makin remuk dan saya sadar: barusan saya ngajarin anak sendiri bahwa perasaannya cuma gangguan buat saya. Mengajarkan emosi pada anak, ternyata, dimulai dari memperbaiki dulu hubungan saya dengan perasaan saya sendiri.
Saya nggak tahu gimana caranya mengajarkan emosi pada anak. Nggak ada yang ngajarin. Buku-buku parenting yang saya baca sambil nyusuin jam dua pagi isinya soal jadwal tidur, interval menyusui, grafik tumbuh kembang. Nggak ada satu pun yang punya bab berjudul “Apa yang Harus Dilakukan Waktu Anak Marah Sampai Lupa Cara Pakai Kata-Kata.” Jadilah saya kayak kebanyakan ibu: ngarang sendiri, dan sering banget salah.
Hari Saya Berhenti Bilang “Udah, Tenang”: Pelajaran Pertama Saya tentang Mengajarkan Emosi pada Anak
Ada satu momen yang mengubah segalanya. Anak saya tantrum gara-gara pisangnya patah jadi dua. Tragedi tingkat dewa kalau kamu baru empat tahun. Saya dengar diri sendiri bilang “udah, tenang” untuk ketiga kalinya dalam dua menit. Dia menatap saya dengan campuran marah dan bingung, kayak saya barusan nyuruh dia ngomong bahasa Jepang. Dan saya tersadar: dia nggak tahu “tenang” itu gimana caranya. Nggak pernah ada yang nunjukin.
Saya mulai baca-baca soal literasi emosional, istilah keren untuk ngajarin anak menyebutkan apa yang mereka rasakan. Intinya sih mengajarkan emosi pada anak dengan bahasa yang masuk akal buat mereka. Konsepnya sederhana: sebelum anak bisa mengelola emosi, mereka harus bisa mengenalinya dulu. Masalahnya, saya sendiri perempuan 34 tahun yang kadang masih nggak bisa bedain antara marah atau cuma lapar. Jadi saya jelas bukan ahlinya. Saya putuskan untuk belajar bareng dia.
Perasaanmu Warna Apa Hari Ini?
Pertanyaan yang awalnya terdengar konyol ini malah jadi yang paling manjur. Alih-alih nanya “kamu sedih?” atau “kenapa marah?” yang bikin dia merasa diinterogasi, saya mulai tanya, “perasaan kamu sekarang warna apa?”
Merah, jawabnya suatu sore setelah teman baiknya di TK main sama anak lain waktu istirahat. Lalu dia bilang merah itu warna di dalam dadanya waktu dia pengen teriak. Dia nggak punya kata “cemburu.” Dia nggak kenal “ditolak.” Tapi dia kenal merah.
Kadang perasaannya kuning, artinya tenaganya lagi melimpah dan kakinya harus lari. Kadang abu-abu, artinya dia nggak mau ngomong dan cuma pengen duduk di samping saya di sofa. Saya nggak selalu bisa nebak kode warnanya dengan benar. Pernah dia bilang perasaannya “pelangi berkilau” dan saya kira artinya senang. Ternyata artinya dia barusan makan setengah bungkus choco chips pas saya ke kamar mandi. Tapi intinya, obrolan sudah mulai. Ada pintu yang bisa saya ketuk, dan dia mulai mau membukanya.
Kesalahan yang Terus Saya Ulangi Saat Mengajarkan Emosi pada Anak
Ini yang agak malu buat saya akui: setahun pertama mencoba jadi lebih baik, saya masih sering kacau. Saya bisa duduk nemenin dia melewati tantrum, memvalidasi perasaannya dengan kata-kata yang tepat, lalu lima menit kemudian merusak semuanya dengan nyeletuk “kenapa sih masih nangis aja?” Jarak antara tahu apa yang harus dilakukan dan benar-benar melakukannya, waktu kamu udah empat tahun nggak tidur nyenyak dan baru aja ada yang numbang yogurt di satu-satunya bantal sofa yang masih bersih, itu jarak yang sangat lebar.
Saya belajar bahwa bagian tersulitnya bukanlah teknik. Teknik itu gampang dipelajari. Yang susah adalah mengatur emosi saya sendiri sambil berusaha ngajarin dia mengatur emosinya. Saya nggak bisa bilang “boleh kok marah” dengan gigi gemeretak dan berharap pelajarannya nyangkut. Anak-anak membaca tubuhmu sebelum mereka mendengar kata-katamu. Anak saya tahu persis kapan muka “saya mendengarkan” saya sebenarnya adalah muka “tolong berhenti ngomong biar saya bisa mikir.”
Tiga Hal yang Benar-Benar Membantu (dan Satu yang Malah Jadi Bumerang)
Saya bukan psikolog anak. Saya cuma ibu yang coba banyak hal, gagal di beberapa, dan menyimpan yang berhasil di rumah tangga kami. Anakmu mungkin beda. Anak saya itu badai berkekuatan topan dalam balutan piyama Spider-Man.
1. Kami menyebutkan perasaan saat nggak ada masalah. Nunggu sampai tantrum buat ngajarin kosakata emosi itu kayak ngajarin orang berenang pas lagi banjir. Kami mulai menyebutkan perasaan di momen-momen tenang: di buku cerita, di kartun, di kasir supermarket. “Ibu itu kelihatannya frustrasi karena antriannya panjang.” “Bluey kelihatannya kecewa.” Awalnya berasa aneh, kayak saya lagi narasiin film dokumenter alam, tapi setelah beberapa minggu jadi kebiasaan.
2. Saya minta maaf waktu saya salah. Yang ini bikin rendah hati. Saya harus bilang hal-hal kayak, “Mama tadi teriak karena capek, bukan karena kamu nakal. Itu salah Mama, bukan salah kamu.” Pertama kali saya ngomong gitu, dia natap saya kayak saya barusan numbuhin kepala dua. Kelima kalinya, dia bilang, “Nggak apa-apa, Ma. Perasaan Mama tadi merah juga ya.” Saya nangis. Nggak akan saya pura-pura nggak nangis.
3. Kami bikin pojok tenang, bukan pojok hukuman. Ini ide suami saya. Cuma beanbag sama beberapa buku dan toples kecil berisi air glitter. Waktu suasana mulai keras, siapapun di antara kami, termasuk saya, boleh duduk di sana. Nggak ada hukuman. Kadang saya ke sana sendirian, dan anak saya bawain boneka sambil bilang, “Mama butuh waktu bentar ya?” Yang mana menggemaskan sekaligus agak memalukan, tapi saya terima dengan senang hati.
Yang jadi bumerang: saya beli poster bagan perasaan, yang ada gambar wajah kartun dengan berbagai emosi. Saya gantung di kulkas pakai magnet bintang. Dua hari pertama anak saya pakai dengan serius. Hari ketiga dia sadar bisa mindahin magnet ke “marah” setiap saya bilang nggak boleh makan kue, dan dia menjadikannya senjata. Posternya saya copot. Beberapa alat memang lebih cocok di kelas TK, bukan di dapur rumah.
Kamu Nggak Bisa Ngajarin yang Belum Kamu Pelajari
Sesuatu berubah ketika saya berhenti memperlakukan obrolan emosi sebagai teknik parenting dan mulai memperlakukannya sebagai hubungan. Saya nggak lagi berusaha mengelola dia. Saya berusaha mengenal dia.
Di tengah jalan saya sadar betapa banyak kosakata emosi saya sendiri yang hilang. Saya tumbuh di rumah yang nggak pernah ngomongin perasaan. Sedih itu lemah. Marah itu nggak sopan. Takut itu buat bayi. Saya menghabiskan sebagian besar usia dua puluhan tanpa tahu bahwa saya cemas, karena saya pikir anxiety itu cuma “lebay.” Mengajari anak saya menyebutkan perasaannya memaksa saya menyebutkan perasaan saya sendiri. Itu nggak terduga, dan jauh lebih sulit dari yang saya kira.
Saya pernah nulis tentang ketegangan ini sebelumnya, pergulatan antara mengurus semua orang dan ingat bahwa saya juga ada, di tulisan saya tentang merasa egois karena jalan pagi sendirian. Benang merahnya sama: saya nggak bisa ngasih anak saya alat emosi yang saya sendiri nggak punya. Saya harus membangunnya dulu, atau setidaknya membangunnya bareng dia.
Tadi Malam Waktu Tidur
Tadi malam anak saya kesal karena sesuatu yang buat saya kelihatan sepele, mainan yang hilang kayaknya. Sebelum saya sempat ngomong, dia bilang, “Ma, perasaanku ungu. Ungu artinya aku sedih dan juga sedikit marah di waktu yang sama.”
Saya nggak membetulkan. Saya nggak bilang mainannya pasti ketemu besok. Saya cuma bilang, “Unggu itu warna yang berat ya. Mau Mama temenin di ungunya sebentar?”
Dia mengangguk. Kami duduk. Semenit kemudian dia naik ke pangkuan saya dan berbisik, “Sekarang jadi biru, Ma. Biru artinya sedikit sedih tapi lumayan nggak apa-apa.”
Saya nggak tahu apakah ini cara yang benar. Mungkin ada ahli perkembangan anak yang bakal bilang sistem warna ini kurang punya dasar ilmiah atau bahwa saya seharusnya pakai model coaching emosional yang lebih terstruktur. Saya nggak peduli. Anak saya sekarang punya cara buat cerita apa yang terjadi di dalam dirinya, dan dia memakainya. Itu terasa seperti kemenangan, mirip dengan rasanya waktu akhirnya paham transisi dari satu ke dua anak.
Mengajarkan emosi pada anak bukan soal teknik yang sempurna. Lebih ke soal hadir dan mencoba, bahkan ketika kosakata emosi kamu sendiri masih berantakan.
Kalau kamu masih di awal perjalanan ini, masih bilang “nggak apa-apa, jangan nangis” karena cuma itu naskah yang kamu tahu, kamu nggak rusak. Anakmu juga nggak. Kamu cuma butuh naskah yang berbeda. Mungkin warnanya. Mungkin cuaca: mendung, badai, cerah. Mungkin binatang: hari ini aku kayak singa yang mengaum, hari ini aku kayak kura-kura yang pengen sembunyi. Nggak penting sistem apa yang kamu ciptakan. Yang penting undangannya tulus: ceritakan apa yang kamu rasakan, dan Mama akan dengar tanpa buru-buru membetulkan.
Saya masih belajar memberikan undangan yang sama untuk diri saya sendiri.

Tinggalkan Balasan