Tiga Tahun Saya Belanja Setiap Stres — Inilah Pelajaran yang Baru Saya Sadari

Woman reviewing receipts and credit card statements at night, emotional spending awareness

Written by

in

Semuanya Bermula dari Sandal Swiss

Saya ingat persis momen itu. Jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, bayi akhirnya berhenti menangis, suami sudah tertidur di sofa dengan TV masih menyala. Saya buka ponsel dan membeli sandal rumah empuk dalam dua warna. Padahal saya sudah punya sandal. Tapi selama empat menit itu, memilih warna terasa seperti kendali atas sesuatu — padahal yang saya kendalikan cuma keranjang belanja.

Itu tiga tahun lalu. Sejak malam itu, saya sudah membeli cangkir keramik yang belum pernah dipakai, produk skincare yang masih bersegel di laci, dan entah berapa selimut yang kelihatan hangat waktu tengah malam. Saya bilang ke diri sendiri itu traktiran kecil. Tidak apa-apa. Semua orang juga melakukannya. Tapi “semua orang juga” bukan alasan yang cukup untuk tidak bertanya-tanya.

Yang Tidak Pernah Saya Mau Lihat

Januari lalu saya melakukan sesuatu yang agak aneh. Saya cetak mutasi kartu kredit setahun penuh dan menyorot setiap transaksi yang terjadi setelah jam sembilan malam. Hasilnya mirip TKP. Ada pesanan baju, alat dapur random, buku yang belum saya sentuh, dan satu set kotak penyimpanan dekoratif yang saya beli, terima, dan lupakan keesokan harinya. Totalnya tidak bencana. Tidak membuat kami bangkrut. Tapi cukup bikin saya berhenti.

Saya mulai menyimpan buku catatan kecil di samping tempat tidur. Saya bisa pakai spreadsheet untuk anggaran, tapi saya ingin sesuatu yang lebih ringan. Hanya satu kalimat: kenapa saya beli ini? Selama dua bulan, jawabannya hampir selalu sama. Hari yang berat di kantor. Merasa tidak dianggap. Bertengkar sama ibu. Kesepian. Lelah melihat kamar yang berantakan. Pembelian itu tidak pernah tentang barangnya. Selalu tentang perasaan yang datang sebelumnya.

Yang mengejutkan saya: bukan stres besar yang memicunya. Saya tidak belanja pas ada darurat. Saya belanja saat kelelahan biasa-biasa saja yang datang diam-diam. Yang muncul karena menjalani hari yang sama terlalu sering. Yang bikin Anda melihat sekeliling dan bertanya, “Cuma ini?” — lalu ponsel Anda menawarkan anting yang janji bikin Anda merasa seperti orang yang hidupnya beres.

Saya sudah coba saran standar. Berhenti langganan email toko. Hapus aplikasi belanja. Taruh barang di keranjang dulu, tunggu 24 jam. Sebagian membantu sedikit. Tapi dorongannya tidak hilang — cuma cari pintu lain. Saya malah berakhir di website supermarket jam sepuluh malam, beli saus pasta mahal karena rasanya seperti melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Masalahnya bukan aplikasinya. Masalahnya saya sudah melatih otak saya untuk menenangkan diri dengan transaksi.

Yang Benar-benar Membantu — Membosankan Banget Kedengarannya

Hal pertama yang berhasil: saya menyebutnya dengan suara keras. Saya mulai bilang ke suami, “Aku mau belanja karena hari ini berat.” Anehnya, begitu saya ucapkan, magisnya hilang. Suami saya cuma jawab, “Oke. Masih mau besok?” Biasanya enggak. Kadang iya. Tapi refleks otomatisnya mulai melambat.

Hal kedua: saya kasih izin ke diri sendiri untuk merasa tidak enak tanpa harus memperbaikinya. Ini kedengarannya seperti istilah terapi — dan mungkin memang begitu. Tapi saya sadar saya memperlakukan setiap emosi tidak nyaman sebagai masalah yang harus dipecahkan. Bosan? Beli perlengkapan hobi. Gelisah? Beli barang yang menenangkan. Sedih? Beli sesuatu yang cantik. Saya mendelegasikan pengaturan emosi saya ke halaman checkout.

Sekarang, begitu rasa gatal itu datang — yang biasanya berujung pada klik “Beli” — saya coba duduk diam selama sepuluh menit. Saya buat teh. Saya memandangi tembok. Saya kirim pesan random ke teman. Saya tidak selalu berhasil. Bulan lalu saya membeli celemek linen yang jelas-jelas tidak saya perlukan, gara-gara habis menghadiri pertemuan orang tua murid yang melelahkan. Tapi saya sadar. Saya lihat polanya saat sedang terjadi, dan itu berbeda dari terbangun karena notifikasi pengiriman dan bingung saya pesan apa.

Bukan Soal Uangnya Sebenarnya

Saya ingin jelas: kita tidak bicara soal jutaan rupiah di sini. Saya tidak punya utang karena belanja online. Saya tidak sembunyikan paket dari suami. Dampak finansialnya, buat saya, menjengkelkan tapi tidak merusak. Biaya sesungguhnya lebih halus. Rasa malu level rendah karena punya barang yang tidak dipakai. Kekacauan yang bikin rumah terasa lebih berat. Perasaan perlahan bahwa saya tidak memegang kendali atas perilaku saya sendiri.

Uang bukan cuma angka. Uang adalah perilaku, kebiasaan, dan emosi yang semuanya kusut jadi satu. Dulu saya pikir orang yang belanja berlebihan itu ceroboh atau tidak bisa matematika. Sekarang saya rasa kebanyakan dari kita cuma sedang mencari perasaan tertentu, dan budaya konsumsi sudah membuatnya sangat mudah untuk mencarinya di tempat yang salah.

Apa yang Saya Lakukan Berbeda Sekarang

Saya masih belanja online. Saya tidak pura-pura jadi minimalis. Tapi ada beberapa aturan yang benar-benar bekerja buat otak saya.

1. Wishlist, bukan keranjang. Kalau saya ingin sesuatu, saya tulis dulu. Kalau seminggu masih kepikiran, baru saya pertimbangkan. Sebagian besar gugur sebelum hari ketiga.

2. Saya tanya diri sendiri: perasaan apa yang ingin saya beli? Bukan barangnya. Perasaannya. Hangat? Kendali? Ingin merasa seperti orang yang punya barang bagus? Jawabannya biasanya bikin rencana belanja terasa kurang mendesak.

3. Saya siapkan jatah “Saya pengen ini” setiap bulan. Saya sisihkan sedikit uang khusus untuk belanja impulsif yang direncanakan. Anehnya, begitu saya tahu saya boleh beli, saya jadi jarang benar-benar membeli.

4. Saya bicarakan. Sama suami, sama teman, kadang cuma bergumam sendiri. Kerahasiaan bikin kebiasaan makin kuat. Cahaya bikin ia mengecil.

Penutup

Saya tidak sembuh. Saya rasa tidak ada yang benar-benar sembuh dari kebiasaan seperti ini. Masih ada malam-malam di mana saya menggulir halaman produk seperti sedang meditasi. Tapi saya lebih sadar sekarang. Saya tahu bahwa sandal swiss waktu itu bukan tentang kehangatan. Itu tentang ingin merasa diperhatikan oleh seseorang — meskipun orang itu diri saya sendiri, di jam sepuluh malam, memakai kartu kredit.

Dan kadang, kesadaran saja sudah cukup.


Tulisan ini mencerminkan pengalaman pribadi saya dengan kebiasaan belanja dan pola emosional. Bukan nasihat keuangan. Jika Anda mengalami kesulitan dengan belanja kompulsif atau utang, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan konselor keuangan profesional atau tenaga kesehatan mental.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *