Pertama kali seseorang bilang ke aku bahwa aku harus lari saat sedang haid, aku tertawa. Orang ini serius? Aku saja susah banget ngangkat badan dari sofa, berselimut dengan heating pad nempel di perut, dan dia malah nyuruh aku joging? Kedengarannya bukan cuma tidak enak tapi benar-benar tidak aman. Bertahun-tahun aku percaya hal yang sama seperti kebanyakan perempuan di sekitarku: olahraga saat menstruasi itu sesuatu yang pokoknya jangan dilakukan. Tubuhmu sedang mengalami sesuatu, dan hal yang bertanggung jawab adalah istirahat. Rasanya seperti akal sehat.
Kecuali akal sehat dan sains tidak selalu sejalan. Waktu aku benar-benar mulai membaca risetnya, aku sadar hampir semua yang aku yakini tentang olahraga dan haid ternyata entah dilebih-lebihkan, ketinggalan zaman, atau salah total. Yang paling mengejutkan bukan cuma bahwa olahraga itu aman saat menstruasi, tapi justru mungkin jadi salah satu hal terbaik yang bisa kamu lakukan buat dirimu sendiri di hari-hari itu. Ini mitos-mitos yang harus aku lepaskan. Menurut studi skala besar oleh Harvard, tidak ada alasan fisiologis untuk menghindari olahraga selama fase apa pun dari siklusmu kecuali dokter menyatakan sebaliknya.
Mitos 1: Sama Sekali Tidak Boleh Olahraga Saat Haid
Ini mitos besarnya, yang jadi dasar dari semua mitos lainnya. Banyak perempuan benar-benar percaya bahwa menstruasi adalah waktunya istirahat total secara fisik. Kenyataannya, tidak ada alasan medis untuk menghindari olahraga selama haid kecuali kamu punya kondisi spesifik seperti anemia berat atau endometriosis yang memang sudah ditandai dokter. Buat sebagian besar perempuan, tetap bergerak bukan cuma aman tapi aktif memberikan manfaat. American College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan olahraga rutin sepanjang seluruh siklus menstruasi. Harvard Apple Women’s Health Study menemukan bahwa kebiasaan olahraga memang berfluktuasi secara alami di tiap fase siklus, tapi tidak ada bukti bahwa berolahraga selama fase menstruasi itu sendiri menyebabkan bahaya.
Mitos 2: Olahraga Membuat Kram Haid Makin Parah
Aku dulu pikir area panggul sudah cukup menderita dan yang paling tidak dibutuhkan adalah aku loncat-loncat di atasnya. Ternyata kebalikannya yang benar. Olahraga saat haid justru memicu pelepasan endorfin, obat penghilang rasa sakit alami tubuhmu. Endorfin ini bukan cuma memperbaiki suasana hati; mereka secara langsung melawan prostaglandin, senyawa yang menyebabkan kontraksi rahim yang memicu kram. Bayangkan endorfin sebagai ibuprofen bawaan tubuhmu, cuma kamu yang menghasilkannya sendiri dengan bergerak. Sebuah meta-analisis 2019 yang dipublikasikan di Journal of Education and Health Promotion meninjau banyak studi dan menyimpulkan bahwa olahraga aerobik rutin secara signifikan mengurangi intensitas nyeri haid. Sainsnya konsisten soal ini.
Mitos 3: Cuma Boleh Stretching Ringan atau Yoga
Dengar ya, kalau yoga lembut terasa pas buatmu di hari pertama, lakukan yoga lembut. Aku bukan orang yang nyuruh kamu deadlift sambil kram. Tapi anggapan bahwa kamu harus membatasi diri ke gerakan intensitas rendah tidak berdasarkan aturan fisiologis apa pun. Latihan beban, lari, sepeda, renang — semuanya aman kalau kamu merasa sanggup. Bahkan, sebagian perempuan melaporkan bahwa workout terbaik mereka terjadi saat menstruasi. Sebuah studi 2025 yang dipublikasikan di Strength and Conditioning Journal menemukan bahwa tidak ada bukti konsisten yang mendukung ide bahwa perempuan harus menyesuaikan jadwal latihan mereka berdasarkan siklus. Para peneliti menyimpulkan bahwa persepsi individu dan bagaimana perasaanmu di hari itu jauh lebih penting daripada resep umum tentang fase siklus apa yang sedang kamu jalani.
Mitos 4: Olahraga Menambah Volume Darah Haid
Ketakutan ini masuk akal secara intuitif. Lebih banyak gerakan sama dengan lebih banyak darah yang bergerak di seluruh tubuh, kan? Tapi aliran menstruasi tidak dikendalikan oleh sirkulasi umum seperti itu. Ini adalah peluruhan lapisan rahim, proses yang diatur oleh sinyal hormonal, bukan oleh seberapa banyak kamu menggerakkan kakimu. Olahraga tidak menambah volume total perdarahan menstruasi. Sebagian perempuan mungkin merasakan sensasi aliran yang meningkat sementara setelah workout, tapi ini biasanya hanya gravitasi yang membantu apa yang sudah ada di rahim keluar lebih cepat. Jumlah totalnya tidak berubah. Kalau ada, olahraga rutin dari waktu ke waktu justru dikaitkan dengan haid yang lebih ringan dan lebih teratur karena efek positifnya terhadap regulasi hormon dan komposisi tubuh.
Mitos 5: Olahraga Saat Haid Mengacaukan Hormon
Selama menstruasi, baik estrogen maupun progesteron ada di titik terendahnya dalam siklus. Ini memang memengaruhi hal-hal seperti tingkat energi dan bahkan kelenturan ligamen, makanya sebagian perempuan merasa sedikit lebih rentan terhadap nyeri sendi saat haid. Tapi olahraga tidak mengganggu siklusmu atau membuat hormonmu kacau. Justru sebaliknya, olahraga moderat yang rutin mendukung siklus menstruasi yang lebih sehat dari waktu ke waktu dengan membantu mengatur sensitivitas insulin, mengelola inflamasi, dan menjaga berat badan sehat — semuanya berkontribusi pada keseimbangan hormonal. Satu-satunya saat olahraga menjadi masalah hormonal adalah di ujung ekstrem — latihan sangat intens dikombinasikan dengan defisit kalori, yang bisa menyebabkan amenorea pada sebagian atlet. Itu skenario yang sama sekali berbeda dari joging tiga puluh menit atau sesi latihan beban saat haid.
Mitos 6: Kamu Akan Merasa Lebih Buruk, Bukan Lebih Baik
Yang ini personal. Aku pernah melewati hari-hari di mana pikiran untuk pakai baju olahraga rasanya seperti orang nyuruh aku mendaki gunung. Tapi ini yang aku perhatikan setelah aku mulai bereksperimen dengan olahraga saat haid: setiap kali aku benar-benar melakukan sesuatu, bahkan cuma jalan kaki dua puluh menit, aku merasa jauh lebih baik setelahnya. Bukan berubah jadi orang yang berbeda. Cuma lebih nggak kembung, lebih nggak sensitif, dan lebih nggak terjebak di dalam ketidaknyamananku sendiri. Ada lingkaran umpan balik di sini yang gampang diremehkan. Kamu merasa buruk, jadi kamu skip olahraga. Skip olahraga bikin kamu merasa lebih buruk keesokan harinya. Memutus lingkaran itu walaupun sekali mengubah caramu mengalami sisa haidmu. Ini bukan soal mencetak rekor pribadi. Ini soal mengingatkan tubuhmu bahwa ia masih mampu merasa enak.
Jadi Sebaiknya Gimana?
Jawaban jujurnya: apa pun yang terasa bisa dijalani. Sebagian perempuan merasa sangat tidak enak di hari pertama dan baik-baik saja di hari ketiga. Sebagian merasa sebaliknya. Tidak ada jadwal universal. Satu-satunya aturan yang benar-benar terbukti adalah dengarkan tubuhmu sebagaimana adanya hari ini, bukan sebagaimana kamu pikir seharusnya. Kalau kamu punya energi, pakai. Kalau kamu kelelahan, istirahat tanpa rasa bersalah. Tujuannya bukan membuktikan sesuatu. Tujuannya tetap terhubung dengan tubuhmu alih-alih check out selama seminggu setiap bulan.
Aku masih punya hari-hari di mana heating pad-ku yang menang dan workout nggak jadi. Bedanya sekarang aku nggak percaya bahwa aku sedang membantu tubuhku dengan diam saja. Aku tahu perbedaan antara butuh istirahat dan cuma mengasumsikan istirahat adalah satu-satunya pilihan. Pergeseran itu mengubah seluruh hubunganku dengan siklusku. Kalau kamu sudah bertahun-tahun duduk di pinggir lapangan selama haid karena seseorang bilang olahraga itu berbahaya atau percuma, mungkin kasih dirimu izin untuk menguji asumsi itu. Kamu mungkin kaget dengan apa yang sebenarnya bisa dilakukan tubuhmu.
Aku juga belajar bahwa berjalan setiap hari, bukan untuk olahraga tapi untuk pikiranku, ternyata jadi hal yang membantuku melewati hari-hari haid tersulit tanpa merasa memaksakan apa pun. Dan ketika aku akhirnya berhenti mencoba menjadi orang pagi, aku sadar bahwa memaksakan diri ke jadwal workout yang kaku adalah separuh dari masalahnya — tubuhku sudah tahu apa yang ia butuhkan, aku saja yang tidak mendengarkan.

Tinggalkan Balasan