Usia 32 tahun, dua anak, karier yang kucoba jaga tetap hidup, dan aku sedang mencari “cara mencari teman sesama ibu” di Google pada jam 10 malam. Hasilnya tidak menggembirakan. Ikut klub buku. Ambil kursus. Jadi relawan. Semua saran yang masuk akal kalau kamu punya malam bebas dan tubuh yang tidak butuh delapan jam tidur untuk bisa berfungsi. Aku tidak punya keduanya. Yang kupunya cuma taman dekat rumah tempat aku membawa anak-anakku setiap sore, dan ibu-ibu yang sama yang kuangguki dalam diam selama enam bulan tanpa tahu satu pun nama mereka.
Dulu aku jago soal ini. Waktu kuliah, pertemanan itu built-in ke dalam desain kehidupan: kamar asrama, kantin, obrolan larut malam tentang hal-hal receh yang entah bagaimana jadi fondasi segalanya. Di pekerjaan pertamaku, aku dapat teman kantor dalam seminggu. Berada di tempat yang sama pada waktu yang sama, berbagi tujuan yang sama, itu bikin pertemanan terasa hampir tidak disengaja. Kamu tidak perlu berusaha. Kedekatan fisik yang melakukan kerja beratnya.
Lalu aku jadi ibu. Kedekatan fisik tidak lagi membantu karena aku di rumah bersama bayi yang belum bisa bicara dan balita yang topik percakapannya terbatas pada truk dan camilan. Aku tidak kehilangan kemampuan berteman. Aku kehilangan keadaan yang dulu membuat pertemanan itu tak terhindarkan.
Kesepian yang datang diam-diam
Kesepiannya menumpuk pelan-pelan, seperti piring kotor di wastafel yang terus kautunda untuk dicuci. Suatu hari tidak ada yang menelepon. Lalu hari berikutnya. Lalu seminggu berlalu tanpa satu pun pesan dari siapa pun yang bukan keluargaku atau orang yang dibayar untuk bicara denganku. Suamiku pulang dan bertanya bagaimana hariku. Aku tidak punya apa-apa untuk diceritakan yang tidak melibatkan jumlah popok atau apa yang ditolak balita untuk dimakan malam itu.
Aku tidak depresi. Aku tidak sedih dalam arti klinis. Tapi aku sendirian dengan cara yang terasa struktural. Seolah desain hidupku dirombak tanpa izinku, dan aku tidak sadar renovasi sedang berlangsung sampai temboknya sudah berdiri.
Ini bagian dari menjadi ibu baru yang paling mengejutkanku. Semua orang memperingatkanku tentang kurang tidur, soal menyusui, soal pemulihan pasca melahirkan. Tidak ada yang menyebut soal isolasi sunyi ketika di rumah bersama manusia kecil yang belum bisa diajak ngobrol. Tidak ada yang bilang bahwa menjaga makhluk mungil tetap hidup seharian bisa hidup berdampingan dengan kesepian yang begitu spesifik sampai rasanya seperti pekerjaan penuh waktu kedua. Aku punya suami yang kucintai, anak-anak yang kusayangi, dan pernikahan yang berusaha keras kujaga. Tapi aku tidak punya teman sesama ibu yang mengerti seperti apa Selasa siangku yang sebenarnya.
Bangku taman dan caraku akhirnya mencari teman sesama ibu
Taman bermain jadi pelarian sosialku secara default. Setiap sore aku mendorong ayunan dan pura-pura mengecek ponsel sementara ibu-ibu lain melakukan hal yang sama satu meter di sampingku. Kami bertukar kontak mata. Kami tersenyum kaku. Kami saling tanya “anaknya umur berapa?” dan “lucu banget ya” dan “iya, soal tidur nanti juga membaik.” Lalu kami mundur ke bangku masing-masing. Rasanya seperti kencan tanpa romansa, basa-basi tanpa hasil. Aku benci setiap menitnya dan aku tetap datang karena di rumah rasanya lebih buruk.
Suatu Selasa, seorang perempuan yang sudah mungkin dua puluh kali kulihat duduk di bangku sebelahku. Anaknya dan anakku sedang menggali di tanah yang sama. Kami melakukan ritual pertukaran standar: umur, nama, TK mana, anak berapa. Lalu, entah apa yang merasukiku, aku mengatakannya lantang: “Aku udah enam bulan ke sini dan masih belum tahu nama siapa-siapa. Sejujurnya aku butuh teman sesama ibu kayak aku butuh tidur.”
Dia tertawa. Bukan yang sopan, tapi yang beneran. Lalu dia bilang, “Sama. Aku udah berbulan-bulan pengin ngomong itu ke seseorang.”
Kami bertukar nomor. Aku mengiriminya pesan dua hari kemudian dan bertanya apa dia mau ngopi hari Sabtu. Dia bilang iya. Aku hampir membatalkan tiga kali. Bukan karena aku tidak mau pergi, tapi karena kerentanan untuk datang demi mencari teman sesama ibu, dengan sengaja, di usiaku, terasa agak absurd. Rasanya kayak ngajak orang ke prom, cuma bedanya umurku sudah kepala tiga dan prom sudah lama sekali dan juga aku tidak punya baju yang tidak ternoda sesuatu yang tidak bisa kuidentifikasi.
Kencan kopi yang mengubah segalanya tentang teman sesama ibu
Kami ketemu di kedai kopi Sabtu pagi. Aku gugup dengan cara yang belum pernah kurasakan sejak umur dua puluhan, dan itu mengejutkanku. Tapi kami ngobrol dua jam. Tentang anak-anak, iya. Tapi juga soal pekerjaan, soal pernikahan, soal buku-buku yang dulu kami baca sebelum cerita pengantar tidur melahap otak kami. Kami ngobrol soal hal-hal yang kami rindukan dari diri kami sebelum jadi ibu, dan hal-hal yang tidak kami rindukan sama sekali. Kami bicara soal betapa anehnya rela menghabiskan Sabtu pagi dengan orang asing padahal kami berdua bisa tidur siang.
Satu kencan kopi itu berujung ke kencan berikutnya. Lalu ke grup chat. Lalu tiga perempuan lain ikut bergabung, satu per satu, semuanya teman-dari-teman-dari-teman yang juga duduk sendirian di bangku taman bertanya-tanya ke mana kehidupan sosial mereka pergi. Sekarang ada enam dari kami di grup chat yang tidak pernah kumatikan notifikasinya. Enam perempuan yang paham bahwa pesan jam 2 siang berisi “hari ini menghancurkanku” tidak butuh solusi. Cukup ada yang membalas “same.”
Aku jadi mikirin beban mental menjadi ibu dan betapa banyak yang dipikul dalam diam. Bukan cuma soal logistik, jadwal dokter, daftar belanja, surat izin sekolah. Tapi beban emosinya. Perasaan bahwa tidak ada yang melihat versi dirimu yang tidak sedang menyangga segalanya dengan satu tangan sambil mengaduk makaroni keju dengan tangan satunya. Punya teman sesama ibu yang melihat versi itu mengubah sesuatu. Tidak mengurangi beban kerja, tapi membuat bebannya terasa kurang sepi. Kadang itu bedanya antara bisa melewati satu minggu dan nyaris tidak bisa.
Wujud asli pertemanan sesama ibu setelah tiga puluh
Ini yang tidak ada yang bilang soal mencari teman sesama ibu setelah umur tiga puluh: risikonya emosional, mirip kayak kencan. Kamu harus rela mengatakan sesuatu yang jujur dan lihat apakah orang lain menemuimu di sana. Kebanyakan orang tidak akan, dan itu tidak apa-apa. Tapi beberapa akan. Mereka yang layak diperjuangkan melewati kecanggungannya.
Ini juga yang tidak ada yang bilang: teman yang kamu dapat di fase hidup ini beda dari teman yang kamu punya di umur dua puluh dua. Mereka paham pesan pembatalan. Mereka tahu bahwa kencan kopi tiga jam itu kemewahan, bukan standar. Mereka tidak mengharapkan check-in mingguan atau ketersediaan yang konsisten. Waktu anakku sakit di pagi hari kencan kopi kedua kami, aku mengirim pesan membatalkan dan dia membalas “gapapa, kita coba lagi bulan depan” dan aku hampir menangis lega. Pertemanan lama bisa membawa beban ekspektasi. Pertemanan baru, yang ditempa dalam kekacauan parenting, datang dengan toleransi bawaan.
Aku mau jujur soal bagian susahnya juga. Tidak semua percakapan di taman berubah jadi pertemanan. Aku pernah ngopi dengan perempuan yang percakapannya tidak pernah keluar dari topik permukaan dan kami berdua pulang tahu kami tidak akan saling mengirim pesan lagi. Itu terjadi. Bukan kegagalan. Cuma dua orang yang tidak cocok, sama seperti kencan, sama seperti hubungan apa pun. Bedanya, di umur kepala tiga, kamu belajar untuk tidak terlalu baper. Taruhannya lebih rendah. Egonya lebih lelah. Kamu lanjut aja.
Aku juga harus menerima bahwa aku tidak akan menemukan satu teman yang memenuhi semua kebutuhan. Teman yang kukirimi pesan saat aku hancur bukan teman yang sama yang kutelpon untuk saran karier. Teman yang suka brunch bukan teman yang akan menjaga anakku dalam keadaan darurat. Pertemanan dewasa itu terdistribusi ke beberapa orang, masing-masing mengisi ruang yang berbeda. Awalnya ini menggangguku. Sekarang rasanya seperti satu-satunya cara realistis untuk menjalaninya.
Ngomong-ngomong soal pertemanan, aku pernah cerita tentang proses detoks pertemanan, saat aku akhirnya berhenti mengejar teman yang tidak pernah mengejarku balik. Itu proses yang berbeda tapi nyambung: sebelum kamu bisa membangun teman sesama ibu yang baru dan sehat, kadang kamu harus merelakan yang lama yang sudah tidak sehat.
Apa yang kupelajari tentang teman sesama ibu
Aku bilang semua ini sebagai cerita, bukan sebagai nasihat. Aku tidak punya sistem untuk mencari teman. Yang kupunya cuma satu pengalaman tentang suatu sore ketika aku bilang sesuatu yang jujur ke orang asing dan kebetulan itu hal yang tepat untuk dikatakan. Itu tidak bisa direplikasi dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.
Tapi aku rasa ada sesuatu di sini tentang harga dari tetap diam. Enam bulan aku mengangguki perempuan yang sama dan tidak pernah belajar nama mereka karena bilang “aku kesepian” rasanya terlalu terbuka. Aku bilang ke diriku sendiri aku baik-baik saja. Aku tidak baik-baik saja. Aku terisolasi dengan cara yang sudah jadi normal. Normal itu kata yang licik. Ia menyembunyikan banyak hal. Begitu aku mengucapkan hal kesepian itu keras-keras dan seseorang membalasnya, mantranya pecah. Bukan karena mengatakannya mengubah apa pun, tapi karena mengatakannya membuktikan aku bukan satu-satunya.
Kalau kamu membaca ini dan kamu belum bicara dengan orang dewasa lain selain pasanganmu dan kasir swalayan dalam berminggu-minggu, aku melihatmu. Aku adalah kamu dulu. Itu bukan cacat karakter. Itu masalah struktural soal bagaimana kita mengatur hidup setelah punya anak: kita menempatkan perempuan di rumah bersama manusia kecil dan mengharapkan mereka menemukan komunitas sendiri. Kita harus membangunnya sendiri, satu percakapan canggung demi satu.
Aku masih tidak tahu nama sebagian besar orang tua di taman. Beberapa dari mereka mungkin tidak ingin berteman, dan itu gapapa. Pertemanan di usia ini bukan soal kuantitas dan bukan soal siapa yang tinggal paling dekat. Ini soal menemukan beberapa teman sesama ibu yang paham, yang membalas pesan, yang tahu bahwa “hari ini menghancurkanku” bukan teriakan minta tolong, cuma tawaran untuk koneksi. Dan ketika kamu menemukan mereka, kamu genggam erat-erat.
Grup chat masih berjalan. Kami sedang merencanakan acara makan bareng bulan depan yang mungkin akan berantakan karena anak seseorang akan sakit pagi harinya. Tapi kami akan menjadwal ulang. Dan itu, lebih dari apa pun, adalah gambaran pertemanan dewasa yang sebenarnya: serangkaian rencana yang terus dijadwal ulang yang akhirnya, pada akhirnya, terlaksana juga.

Tinggalkan Balasan