Waktu tahu saya akan punya anak kedua, saya ingat persis momen itu. Jam setengah enam pagi, berdiri di kamar mandi sambil megang test pack dengan dua garis merah. Anak pertama saya masih tidur di kamar sebelah. Dan saya menangis. Bukan tangis haru yang manis kayak di film-film. Ini tangis panik. Tangis “ya ampun gue barusan ngancurin hidup keluarga kecil yang udah susah-susah dibangun tiga tahun terakhir.”
Orang jarang ngomongin betapa seremnya punya anak kedua, transisi dari satu ke dua anak itu, apalagi kalau kamu sebenernya udah cukup bahagia dengan kehidupan sekarang. Kami akhirnya udah nemu ritme yang pas. Anak saya bisa makan sendiri tanpa lempar-lempar makanan ke lantai — sebagian besar waktunya. Kami bisa keluar makan di restoran tanpa bawa tas isi seluruh rumah. Saya udah bisa tidur lagi. Tidur nyenyak, tanpa interupsi, tidur yang indah. Dan sekarang saya dengan sengaja mau menghancurkan semua itu. Kenapa, coba?
Rasa Bersalah Punya Anak Kedua Datang Sebelum Bayinya Lahir
Hampir sepanjang kehamilan kedua saya dihantui rasa bersalah ke anak pertama. Setiap kali dia naik ke pangkuan dan saya harus menggeser posisinya gara-gara perut makin besar, rasanya kayak saya udah mulai mendorong dia pergi. Saya suka kebayang-bayang di malam hari: dia merasa tergantikan, bingung kenapa tiba-tiba Mama punya manusia mini lain yang nempel 24/7.
Teman-teman sesama ibu menghibur. “Hatimu cuma akan meluas,” kata mereka. Saya tersenyum dan mengangguk, tapi dalam hati mikir, omongannya enak sih, tapi gimana kalau hati saya yang cacat dan nggak meluas? Saya seriusan cemas nggak bakal bisa sayang ke anak kedua dengan cara yang sama. Atau lebih parah lagi, saya malah lebih sayang ke anak kedua dan anak pertama saya bakal sadar.
Ini yang saya harap ada yang ngomong ke saya waktu itu: rasa bersalahnya nggak akan hilang begitu bayi lahir. Dia cuma berubah bentuk. Sekarang saya merasa bersalah kalau kelamaan bantu anak pertama mengerjakan puzzle-nya sementara adiknya cuma telentang di matras mainan mandangin langit-langit. Terus saya merasa bersalah lagi pas nyusuin adiknya dan si kakak nonton kartun sendirian. Rasa bersalahnya terbelah jadi dua rasa dan mereka gantian muncul. Kadang, dua-duanya baik-baik aja dan saya tetap merasa bersalah karena nggak cukup menikmati momen itu. Menjadi ibu itu seperti prasmanan rasa bersalah, dan kamu nggak bisa skip antreannya.
Punya Anak Kedua: Katanya Dua Kali Lebih Berat. Kenyataannya?
Kalimat paling umum yang saya dengar dari orang-orang: “Dari satu ke dua itu bukan dua kali lipat kerjanya. Eksponensial.” Saya udah siap mental untuk kekacauan total. Saya bayangin piring numpuk berminggu-minggu, dua anak nangis barengan, dan saya nangis di pantry makan keju parut langsung dari bungkusnya.
Beberapa hal itu beneran terjadi. Tapi kerjaannya sendiri sebetulnya nggak dua kali lebih berat. Yang nggak dijelaskan siapa-siapa adalah: kamu jadi orang tua yang berbeda total di anak kedua. Waktu anak pertama, saya googling segalanya. Saya catat jadwal menyusui. Saya mencatat popok basah di aplikasi. Saya steril dot yang jatuh ke lantai selama nol koma tiga detik. Waktu anak kedua? Saya kasih dia mainan gigi yang ketemu di bawah sofa entah udah berapa lama sambil mikir, ah, paling juga nggak apa-apa.
Merawat bayi sebenernya lebih gampang karena saya udah nggak panik setiap saat. Saya tahu nangis nggak akan bikin dia kenapa-kenapa. Saya tahu fase cluster feeding bakal berakhir. Saya tahu ruam aneh itu bakal hilang sendiri tanpa saya habisin dua jam di forum parenting. Kepercayaan diri yang saya dapat dari bertahan hidup ngurus anak pertama bikin anak kedua terasa hampir manageable.
Hampir.
Bagian dari Punya Anak Kedua yang Bikin Saya Benar-benar Runtuh
Yang nggak ada yang peringatin ke saya adalah logistiknya. Logistik murni dan melelahkan dari mengelola dua manusia kecil dengan jadwal yang sama sekali berbeda. Ini nggak ada hubungannya sama cinta atau bonding atau hal-hal emosional yang sering dibahas orang. Murni operasional. Dan ini hampir menghancurkan saya.
Anak saya yang pertama berhenti tidur siang tiga minggu setelah adiknya lahir. Tiga. Minggu. Jadi sekarang saya punya bayi baru yang harus nyusu tiap dua jam dan balita tiga tahun yang melek dari jam 6 pagi sampai jam 8 malam tanpa jeda. Nggak ada persiapan yang cukup untuk situasi kayak gini. Kamu cuma menjalaninya, sejam demi sejam, sambil ngemil berdiri di dapur karena duduk adalah kemewahan yang udah nggak terjangkau.
Keluar rumah aja butuh persiapan empat puluh lima menit. Begitu dua-duanya udah pakai sepatu, si bayi butuh ganti popok. Begitu popok selesai diganti, si kakak udah copot lagi sepatunya dan sekarang minta camilan. Saya pernah habisin satu pagi penuh cuma untuk pergi ke warung dan akhirnya nyerah jam sebelas siang karena emang nggak mungkin kejadian. Makan malam kami makanan seadanya dari dapur malam itu dan nggak ada yang mati, jadi saya menghitungnya sebagai kemenangan.
Di titik ini saya mulai ngerti kenapa ibu saya sendiri selalu kelihatan agak berantakan waktu saya kecil dulu. Bukan karena dia nggak bisa mengatasi semuanya. Tapi karena mengatasi semuanya dengan dua anak butuh kemampuan perencanaan yang bahkan pengendali lalu lintas udara aja bakal berkeringat. Saya nggak siap untuk itu, dan saya curiga ibu saya juga nggak.
Mencari Lima Menit di Tengah Ketiadaan Waktu
Merawat diri sendiri jadi lelucon berjalan. Dengan satu anak, saya masih bisa mandi hampir setiap hari. Dengan dua, saya pernah sadar jam empat sore bahwa saya belum gosok gigi. Saya chat suami, “Aku lupa gosok gigi hari ini,” dan dia balas, “Lho, kamu biasanya gosok gigi?” Dia bercanda. Saya hampir melempar ponsel ke kepalanya.
Saya harus kreatif soal me-time karena memang nggak ada blok waktu yang cukup panjang untuk ngapa-ngapain. Sejam penuh buat diri sendiri? Mustahil. Tapi lima menit pas dua-duanya udah diikat di car seat setelah pulang dari belanja? Itu punya saya. Saya duduk di kursi pengemudi, ngunci pintu, dan scroll ponsel sementara mereka berdua nunggu. Hakimi saya kalau mau. Saya butuh lima menit itu untuk ingat bahwa saya adalah manusia dengan pikiran dan perasaan, bukan cuma dispenser camilan berkaki.
Saya juga belajar sesuatu yang agak nggak terduga: saya butuh waktu benar-benar sendirian lebih dari apa pun. Bukan girls’ night. Bukan date night. Cuma duduk di tempat yang tenang sambil minum kopi dan nggak ada yang menyentuh saya. Pertama kali saya melakukannya, saya merasa bersalah sepanjang waktu. Kelima kalinya, saya nggak merasakan apa-apa selain lega. Kesepuluh kalinya, saya udah berhenti menghitung dan mulai menjaga waktu itu seperti tagihan listrik yang harus dibayar atau lampu bakal mati.
Momen Ketika Semuanya Mulai Masuk Akal
Sekitar empat bulan kemudian, ada yang berubah. Saya sedang duduk di lantai melipat cucian — segunung cucian karena dua anak menghasilkan jumlah baju kotor yang sangat tidak masuk akal — dan bayi saya lagi tummy time di sebelah saya. Anak saya yang besar datang, ikutan tengkurap di samping adiknya, dan mulai membuat wajah-wajah lucu. Adiknya tertawa. Dia ikut tertawa karena adiknya tertawa. Dan saya duduk di sana memperhatikan mereka, dua manusia terpisah yang bahkan belum ada di dunia ini beberapa tahun lalu, saling terhubung dengan cara yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan saya.
Itulah momen ketika saya akhirnya mengerti maksud teman-teman saya soal hati yang meluas. Itu bukan hal ajaib yang otomatis terjadi begitu bayi lahir. Itu tumbuh perlahan, dalam momen-momen kecil, saat kamu nggak memperhatikan. Kamu nggak kehilangan cinta untuk anak pertama. Kamu cuma menemukan bahwa ternyata ada lebih banyak ruang di dalam sana dari yang kamu kira, dan ruang itu selama ini kosong, menunggu.
Saya juga sadar bahwa melewati masa transisi punya anak kedua berarti saya nggak bisa terus melakukan ini sendirian. Saya menghabiskan tahun pertama anak pertama saya mencoba membuktikan bahwa saya nggak butuh siapa-siapa, bahwa saya mampu, bahwa minta tolong artinya saya gagal. Begitu anak kedua datang, saya udah terlalu capek untuk terus pura-pura. Saya mulai benar-benar ngobrol dengan sesama ibu alih-alih cuma mengangguk di taman bermain. Saya menerima bantuan yang ditawarkan. Saya berhenti mencoba jadi ibu yang semuanya beres, karena ibu kayak gitu nggak ada, dan kalau pun ada, jelas itu bukan saya.
Saya juga berhenti mencoba mengelola semuanya sendiri. Kalau si kakak minta sesuatu pas saya lagi nyusuin, alih-alih buru-buru berdiri dan mencoba melakukan dua hal sekaligus, saya mulai bilang, “Tunggu lima menit ya, Mama bantu nanti.” Dan tebak? Dia selamat. Dunia nggak kiamat. Saya selama ini memikul beban mental mengurus seluruh rumah tangga dan menganggapnya sebagai kegagalan pribadi setiap kali ada yang terlewat. Punya dua anak memaksa saya untuk menurunkan sebagian beban itu. Beberapa tetap di lantai. Dan rumah jadi lebih berantakan, iya, tapi saya sedikit lebih nggak berantakan, dan pertukaran itu benar-benar sepadan.
Yang Ingin Saya Katakan ke Diri Saya yang Dulu
Kalau saya bisa balik ke pagi itu di kamar mandi, sambil megang test pack positif dan panik setengah mati, ini yang bakal saya omongin ke diri sendiri.
Kamu akan capek dalam tingkatan yang bahkan nggak kamu tahu mungkin terjadi. Kamu kadang bakal kangen kehidupan lamamu, yang cuma punya satu anak, yang kamu bisa nonton satu episode penuh sesuatu tanpa pause empat belas kali. Kamu bakal bentak suami karena napasnya kedengaran terlalu keras, saking overstimulated kamu nggak bisa menerima satu input sensorik tambahan pun. Kamu bakal merasa bersalah tentang siapa yang dapat lebih sedikit perhatian, dan jawabannya akan bolak-balik terus sampai kepala kamu pusing.
Tapi kamu juga akan menyaksikan anak pertamamu menjadi seorang kakak, dan transformasi itu sendiri sudah setimpal dengan setiap hari yang kacau, melelahkan, dan tanpa gosok gigi. Kamu akan melihat sisi dari dirinya yang bahkan nggak kamu tahu ada — lembut, protektif, bangga dengan cara yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan apa yang kamu ajarkan. Kamu akan mendengar dia bilang, “Itu adik bayiku,” ke orang asing di supermarket, dan hatimu akan melakukan sesuatu yang kamu kira nggak mungkin dilakukan hati.
Transisi saat punya anak kedua bukan dua kali lipat pekerjaan. Bukan juga eksponensial. Dia cuma berbeda. Lebih susah di beberapa hal, lebih gampang di hal lain. Bagian tersulitnya bukan bayinya. Bagian tersulitnya adalah belajar untuk baik ke diri sendiri saat kamu nggak bisa menjadi segalanya untuk semua orang di waktu yang sama.
Saya masih belajar bagian itu. Beberapa hari saya lebih baik, beberapa hari lainnya tidak. Tapi saya udah nggak takut lagi. Dan tangisan di kamar mandi itu? Ternyata itu bukan akhir dari kehidupan yang saya kenal. Itu adalah awal dari sesuatu yang belum bisa saya lihat waktu itu.

Tinggalkan Balasan