Dua tahun lalu rak kamar mandiku isinya lima serum berbeda, satu jade roller yang kupakai tepat dua kali, dan lilin beraroma “forest bathing.” Lilin itu kubeli jam 11 malam di hari Selasa, habis scroll video rutinitas pagi seorang influencer. Tipe video di mana seseorang bangun jam 5:15, minum air lemon hangat dari cangkir keramik yang harganya lebih mahal dari anggaran belanjaku seminggu, lalu journaling setengah jam sebelum matahari terbit. Aku pengen jadi orang itu. Kenyataannya, aku orang yang snooze alarm dua kali, lupa pakai pelembap, dan pernah pakai tisu basah bayi buat cuci muka karena facial wash-nya di lantai atas dan aku udah telanjur rebahan. Butuh waktu lama buat nyadar bahwa kebiasaan self-care sederhana jauh lebih ampuh buat kesehatan mental daripada apa pun yang ada label harganya.
Industri self-care berhasil meyakinkanku bahwa merasa lebih baik itu harus dimulai dengan membeli sesuatu. Produk tambahan. Produk yang lebih bagus. Produk yang tepat. Jadi aku beli. Sheet mask, krim malam, eksfolian dengan nama yang terdengar seperti PR kimia. Jurnal gratitude bersampul linen. Diffuser essential oil berbentuk kerikil keramik. Selama sekitar delapan belas bulan, self-care-ku memang terlihat mahal dan wanginya enak. Tapi dampaknya ke perasaanku? Nol besar. Produk menumpuk lebih cepat daripada kebahagiaan, dan aku beneran gak ngerti di mana salahnya.
Jebakan “beli dulu, nanti juga sembuh”: kenapa kebiasaan self-care sederhana lebih awet dari belanjaan
Aku bukannya anti skincare, ya. Beberapa produk emang bekerja seperti klaimnya, dan aku masih pakai tiga dari lima serum itu secara bergilir. Masalahnya bukan di produknya. Masalahnya di urutan operasinya. Aku beli sesuatu biar merasa lebih baik, terus kecewa karena benda itu gak memperbaiki perasaanku, terus beli benda lain buat memperbaiki kekecewaan itu. Itu konsumerisme yang dibungkus wellness, dan aku jatuh ke lubang yang sama berkali-kali karena gak ada yang masarin “keluar rumah dua puluh menit dan jangan lihat ponsel” dengan cara yang bikin kamu klik “tambah ke keranjang.” Kebiasaan self-care sederhana gak fotogenik buat Instagram, dan justru itu kenapa gak ada yang jualan.
Titik baliknya gak dramatis sama sekali. Suatu Rabu siang, habis negosiasi sama balita dan oatmeal yang tumpah, aku keluar rumah tanpa rencana. Gak bawa headphone. Gak nyalain podcast. Gak ngitung langkah. Cuma jalan muterin kompleks dalam diam, mungkin sekitar delapan belasan menit. Waktu balik ke rumah, ada sesuatu yang berubah. Bukan transformasi mood yang wah, cuma sedikit kelonggaran di dada yang tadinya aku gak sadar lagi sesak. Besokannya aku jalan lagi. Terus lusanya lagi. Akhir bulan itu aku udah jalan lebih banyak daripada total enam bulan sebelumnya, dan aku gak beli satu produk pun untuk mewujudkannya.
Jalan kaki tanpa soundtrack
Bagian “tanpa headphone”-nya penting banget. Bertahun-tahun aku jalan kaki sambil dengerin podcast produktivitas, yang artinya otakku masih nyerap konten, masih memproses, masih kerja. Sunyi itu awalnya gak nyaman. Hampir-sunyi, sih, karena burung masih ada dan truk sampah juga lewat. Isi kepalaku berisik dan berantakan. Aku refleks terus ngambil ponsel, kayak phantom limb gitu. Tapi setelah beberapa kali jalan, ketidaknyamanan itu melunak jadi sesuatu yang lebih kayak… kelapangan. Aku mulai sadar hal-hal yang biasanya terlewat: kucing tetangga yang selalu duduk di pagar yang sama tiap sore, cara cahaya jatuh di sudut tertentu jam 4, fakta bahwa aku belum menarik napas dalam sekitar empat jam. Gak ada yang dalam dari semua ini. Justru itu intinya. Jalan kaki ini ngasih aku dua puluh menit buat jadi manusia biasa, bukan problem-solver. Dan itu ternyata jauh lebih menyembuhkan daripada serum mana pun yang pernah kubeli.
Yang bikin heran adalah betapa kebiasaan kecil ini ngerembes ke bagian lain hariku. Di hari aku jalan, aku lebih jarang sewot sama anak-anak. Aku kurang ngomel. Tidurku sedikit lebih baik. Gak ada yang cukup dramatis buat dijadiin before-and-after reel Instagram, tapi efeknya numpuk. Setelah tiga bulan jalan hampir setiap hari, aku menyadari satu hal: aku gak beli satu pun produk “self-care” selama periode itu. Bukan karena disiplin, tapi karena aku gak butuh. Jalan kaki itu ngasih apa yang produk-produk itu janjikan dan gak pernah kasih.
Rutinitas pagi yang beneran bertahan
Aku pernah nyoba ritual bangun jam 5 pagi. Enam kali. Tiap percobaan berakhir sama aku yang melek dalam gelap, kesal, nyeruput kopi yang rasanya kayak hukuman. Jam 10 pagi aku udah capek dan uring-uringan, yang mana agak kontradiktif sama tujuan “wellness” itu sendiri. Jadi aku berhenti maksain diri jadi morning person dan mulai bikin sesuatu yang cocok buat diriku yang sebenarnya: seseorang yang butuh tidur dan gak menikmati penderitaan sebelum matahari terbit.
Ini penampakan pagiku sekarang. Bukan versi yang sudah difilter, versi aslinya. Aku bangun kapan aja badanku selesai tidur, biasanya sekitar jam 6:45 karena manusia kecil juga bangun di jam segitu. Aku minum segelas air putih. Bukan air lemon di cangkir keramik. Cuma air keran di gelas plastik lecet yang sudah kupunya sejak kuliah. Aku cuci muka pakai air dingin, terus pakai sunscreen. Bukan lima produk. Bukan rutinitas sepuluh langkah. Cuci muka dan sunscreen. Kalau lagi ambisius, tambah pelembap. Kalau pagi di mana aku cuma punya empat puluh lima detik sebelum seseorang minta camilan, sunscreen adalah satu-satunya yang kuperjuangkan mati-matian karena usiaku sudah kepala tiga dan matahari gak bisa dinego.
Setelah itu aku bikin sarapan buat anak-anak dan kami duduk di meja. Dulu ini sumber stres. Aku pengen pagi yang tenang dan santai seperti di video-video. Sekarang aku terima aja bahwa sarapan pasti melibatkan seseorang nangis karena sendoknya salah dan satu lagi ngolesin yogurt ke bajunya. Perubahannya bukan di rutinitasnya. Perubahannya di ekspektasiku. Aku berhenti berusaha bikin pagi jadi aspirational dan mulai bikin pagi jadi fungsional. Satu reframe sederhana itu ngasih dampak ke kesehatan mentalku lebih besar daripada prompt journaling pagi mana pun. Kebiasaan self-care sederhana ini gak butuh beli apa-apa, dan justru itu kenapa mereka beneran bertahan.
Iya, aku nulis di buku catatan hampir tiap pagi, tapi gak seperti yang kamu bayangkan. Aku gak punya jurnal gratitude dengan panduan. Aku gak jawab prompt. Aku cuma nulis apa pun yang ada di kepalaku selama waktu yang kupunya, biasanya tiga sampai delapan menit sebelum ada yang interupsi. Kadang cuma satu kalimat. Kadang daftar belanjaan yang tercampur perasaan. Wadahnya jelek dan tulisan tanganku lebih jelek lagi. Tapi itu bekerja, karena satu-satunya aturannya adalah gak ada aturan. Cuma itu caranya journaling bertahan buatku. Begitu aku coba ngelakuinnya dengan “benar,” aku langsung berhenti total.
Skincare yang beneran kulakuin, bukan skincare yang kuangan-anganin
Rutinitas skincare-ku sekarang cuma tiga langkah, dan dua di antaranya opsional tergantung seberapa capeknya aku.
1. Cuci muka pakai facial wash. Bukan yang mahal. Yang di drugstore, harganya lebih murah dari sandwich yang nanti kumakan. Fungsinya bersihin kotoran dan gak bikin kulitku marah. Itu seluruh deskripsi pekerjaannya.
2. Pelembap. Aku simpan satu pelembap buat muka dan satu buat badan. Yang badan itu kemasan gede yang udah kubeli ulang empat kali karena emang bekerja dan karena aku nolak punya produk terpisah buat siku dan lutut. Hidup terlalu singkat buat level kategorisasi kayak gitu.
3. Sunscreen. Tiap pagi. Gak ada tawar-menawar. Ini satu-satunya langkah yang kujalani militan, dan ini juga langkah yang disepakati para dermatolog. Sisanya: serum, acid, cairan dalam botol penetes, itu semua ekstra. Kadang ekstra yang menyenangkan. Tapi tetap ekstra.
Dulu aku suka minder sama rutinitas ini karena gak mirip rutinitas yang kulihat online. Gak ada yang nge-post shelfie skincare tiga langkah. Gak ada yang bikin video “get ready with me” di mana mereka ngelakuin hal minimal terus pergi. Tapi kulitku sekarang lebih bagus, di usia kepala tiga dengan rutinitas tiga langkah, daripada waktu umur dua puluhan pas lagi pakai tujuh produk yang gak kupahami. Sebagian karena konsistensi. Sebagian karena rutinitas simpel lebih gampang dijaga, dan menjaga itu lebih penting daripada intensitas. Tapi kurasa yang paling besar pengaruhnya adalah aku berhenti obsesi, dan stres ngelakuin hal-hal ke kulit yang gak bisa diperbaiki produk mana pun.
Detoks digital yang sebenarnya bukan detoks
Aku gak nyebutnya detoks digital karena istilah itu bikin pengen melipir. Yang kulakuin sebenarnya lebih simpel. Aku matiin semua notifikasi kecuali pesan dari manusia beneran yang kukenal. Itu makan waktu sekitar empat menit di pengaturan ponsel. Efeknya langsung terasa dan gak proporsional sama effort-nya.
Sebelumnya, ponselku bunyi buat promo email, update aplikasi, like Instagram, berita breaking news yang gak kuingat pernah subscribe, dan pengingat dari aplikasi astrologi yang ku-download pas fase hidup yang lumayan cemas di tahun 2022. Tiap getaran narik atensiku dari apa pun yang lagi kulakuin dan nge-drop di tempat lain. Aku gak milih ke mana atensiku pergi. Ponselku yang milih, dan ponselku punya penilaian yang buruk.
Sekarang ponselku hampir selalu diam. Kalau bunyi, hampir selalu dari orang yang emang pengen kudenger. Satu perubahan tunggal ini ningkatin mood-ku lebih dari meditasi, dan aku ngomong gini sebagai orang yang udah nyoba meditasi minimal delapan kali dan menyimpulkan bahwa meditasi justru bikin aku makin cemas. Ngomong-ngomong, kurasa aku gak sendirian soal ini. Sunyi bikin sebagian orang tenang. Bikin orang lain, orang seperti aku, tiba-tiba sadar sama semua intrusive thought yang tadi berhasil kutekan dengan aktivitas. Jalan kaki lebih cocok buatku karena badanku bergerak dan otakku bisa memproses sesuatu di background tanpa aku harus natap mereka langsung.
Aku juga hapus Instagram dari ponsel selama dua bulan tahun lalu. Bukan selamanya, cuma dua bulan. Itu bukan perubahan gaya hidup permanen. Itu eksperimen. Yang kupelajari: aplikasinya bukan masalahnya. Masalahnya adalah kebiasaan buka aplikasi itu sebelas detik setelah ada momen hening. Nunggu air mendidih? Instagram. Nunggu anak kelar di toilet? Instagram. Rebahan sebelum tidur? Instagram. Nge-break kebiasaan itu butuh ngehapus aplikasi sepenuhnya biar jempolku gak bisa nemuin dia pakai muscle memory. Waktu ku-install lagi, kebiasaan itu udah cukup patah sampai aku makai aplikasinya secara berbeda — intentional, bukan otomatis. Aku bukan role model buat disiplin digital. Aku masih kadang scroll. Tapi aku sadar pas ngelakuinnya, dan sadar itu udah sebagian besar perjuangannya.
Boundaries, atau: belajar bilang tidak tanpa tur apologinya
Self-care sering dijual sebagai menambahkan sesuatu ke hidupmu. Bath bomb, sheet mask, morning pages. Tapi self-care paling efektif yang pernah kupraktikkan adalah pengurangan. Ngelepas kewajiban. Ngebatalin rencana. Bilang tidak ke hal-hal yang gak pengen kulakuin, dan nolak untuk ngikutin kata “tidak” itu dengan penjelasan panjang yang ujung-ujungnya bikin “tidak”-nya kedengeran kayak “iya dalam kondisi yang berbeda.”
Dulu aku belajar bilang tidak tanpa menjelaskan diri secara lambat dan gak sempurna. Beberapa kali pertama rasanya gak nyaman secara fisik. Aku merasa harus membenarkan kata “tidak”-ku dengan surat dokter, komitmen sebelumnya, atau keadaan darurat yang terdokumentasi. Tapi aku latihan. “Gak, itu gak cocok buatku.” “Maaf, aku gak bisa.” “Enggak, tapi makasih ya udah ngajak.” Tanpa koma, tanpa “karena,” tanpa paragraf pembenaran. Cuma tidak. Dan coba tebak apa yang terjadi: gak ada yang mati. Gak ada yang unfriend. Gak ada yang ngirim pesan marah minta penjelasan. Kebanyakan orang cuma bilang “oke, mungkin lain kali” terus lanjut hidup. Rasa bersalah yang selama ini kupikul ternyata sepenuhnya bikinan sendiri.
Ini, lebih dari face mask atau bubble bath mana pun, adalah wujud self-care-ku yang sebenarnya sekarang. Melindungi waktuku, energiku, malam-malamku. Memperlakukan kalenderku sendiri sebagai sesuatu yang kukontrol, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja padaku. Memang kurang fotogenik dibanding kamar mandi penuh lilin, tapi ini bekerja dengan cara yang gak pernah bisa dilakukan produk mandi.
Rasa bersalahnya itu bagian tersulit
Bahkan sekarang, setelah bertahun-tahun mempraktikkan ini, aku masih ngerasain sedikit rasa bersalah tiap ngelakuin sesuatu buat diri sendiri. Ambil waktu jalan kaki sementara pasangan jagain anak-anak. Skip group chat seharian karena aku butuh hening. Bilang tidak ke sesuatu yang secara teknis bisa kudatangi. Sekarang rasa bersalahnya lebih pelan. Lebih kayak dengungan latar daripada tuduhan keras. Tapi tetap ada, dan aku udah menerima bahwa mungkin dia akan selalu ada, dan keberadaannya bukan berarti aku ngelakuin sesuatu yang salah.
Perempuan dikondisikan untuk percaya bahwa waktu kita adalah milik komunal. Bahwa istirahat harus diperoleh dulu dengan kelelahan. Bahwa ngelakuin sesuatu murni buat kesejahteraan diri sendiri, tanpa manfaat buat orang lain, itu egois. Aku menyerap pesan-pesan itu selama puluhan tahun sebelum aku sadar mereka ada. Melepasnya butuh waktu lebih lama daripada menyerapnya, dan aku masih di tengah-tengah proses itu. Beberapa hari aku menang. Beberapa hari rasa bersalah yang menang. Bedanya sekarang: aku tahu apa yang sedang terjadi waktu itu terjadi, dan aku gak biarin rasa bersalah yang pegang kendali lagi.
Yang paling membantu adalah mengubah cara pandang: self-care bukan kemewahan, tapi perawatan. Aku gak merasa bersalah waktu ganti oli mobil. Aku gak minta maaf waktu isi bensin karena tangki udah hampir kosong. Ambil waktu jalan kaki, bilang tidak, cuci muka, tidur daripada doom-scrolling. Ini bukan hadiah. Ini setara dengan ngisi bensin ke mobil. Mesin gak bisa jalan tanpa bahan bakar, dan aku adalah mesin yang terbuat dari daging dan kecemasan, dan aku berfungsi lebih baik waktu gak berjalan dalam keadaan kosong. Itu bukan egois. Itu fisika.
Aku masih pakai tiga produk skincare. Aku masih kadang nyalain lilin, yang aroma forest-bathing dengan nama absurd itu. Tapi semua itu dekorasi, bukan fondasi. Fondasinya adalah jalan kaki, boundaries, notifikasi yang kumatikan, sunscreen yang kupakai tiap pagi entah aku mood atau nggak. Fondasinya membosankan dan gak difoto dan konsisten. Kebiasaan self-care sederhana gak butuh shelfie, dan justru itu kenapa ia bekerja. Rutinitas self-care-ku kecil dan membosankan sekarang, dan aku mengatakannya sebagai pujian tertinggi yang bisa kuberikan. Hal-hal membosankan itu yang bertahan. Hal-hal membosankan itu yang menumpuk. Hal-hal membosankan itu yang beneran mengubah perasaanku, satu langkah kaki biasa-biasa saja dalam satu waktu.

Tinggalkan Balasan