Hari Kerja “Cukup Baik”: Berhenti Mengejar 8 Jam dan Mulai Menyelesaikan yang Penting

jam kerja realistis untuk ibu bekerja

Written by

in

Percaya atau nggak, dulu aku termasuk orang yang mati-matian pengen kerja delapan jam penuh setiap hari. Kayaknya kalau nggak mencapai angka itu, aku belum kerja beneran. Aku duduk di meja jam sembilan pagi, kopi sudah tersaji, laptop menyala, dan tekad membara. Tapi entah kenapa, jam setengah sebelas ternyata aku baru nulis satu kalimat email, sementara anakku yang tiga tahun sudah minta cemilan empat kali dan yang lima tahun minta digambari “naga pisang” — sebuah makhluk yang bahkan aku nggak yakin wujudnya seperti apa.

Aku merasa gagal di dua peran sekaligus. Kurang kerja. Kurang jadi ibu. Kurang semuanya. Rasanya seperti berdiri di tengah-tengah dan dua sisi dunia sedang menjauh.

Sudah beberapa bulan aku mencoba segala macam cara untuk memperbaiki ini. Bangun jam lima pagi? Bertahan empat hari, lalu berubah jadi zombie yang marah-marah sebelum makan siang. Membagi hari dengan time blocking rapi? Anak-anakku ternyata nggak pernah baca buku time management. Kerja pas jam tidur siang? Anak bungsuku memutuskan berhenti tidur siang tepat saat aku mulai strategi ini. Timing yang sempurna, sungguh.

Khayalan tentang hari kerja tanpa gangguan

Dulu aku punya gambaran ideal tentang hari produktif. Meja bersih, ruangan sunyi, kopi masih panas, dan jadwal yang rapi. Nggak ada yang minta tolong buka bungkus yogurt. Nggak ada yang teriak karena kaus kakinya “nggak enak”. Hanya aku dan pekerjaanku, dalam harmoni sempurna, selama delapan jam penuh.

Sekarang aku tahu itu omong kosong besar. Tapi aku bertahan dengan gambaran itu begitu lama karena semua buku produktivitas dan postingan LinkedIn seolah janji hal yang sama. Bangun lebih pagi. Hilangkan gangguan. Kerjakan tugas secara berurutan. Seolah anak kecil itu gangguan yang bisa kamu hilangkan, kayak notifikasi HP.

Titik puncaknya datang hari Selasa. Aku punya deadline jam dua siang. Sejak jam delapan pagi aku berusaha menyelesaikan laporan. Jam satu lebih empat puluh lima, aku baru punya mungkin empat puluh lima menit kerja beneran. Sisanya? Interupsi, rasa bersalah, dan menatap layar sementara seseorang menyanyikan lagu PAW Patrol enam inci dari telingaku. Aku melewatkan deadline. Nangis di kamar mandi. Lalu melakukan sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan dari bulan-bulan sebelumnya. Aku bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya mungkin dilakukan, bukan apa kata pakar produktivitas di internet.

Seperti apa “cukup baik” yang sebenarnya

Selama dua minggu aku mencatat waktu kerja yang sebenarnya. Bukan waktu duduk di meja, tapi waktu beneran fokus mengerjakan sesuatu. Angkanya mengejutkanku. Rata-rata aku punya sekitar dua sampai tiga jam fokus sungguhan per hari. Kadang kurang. Jarang sekali lebih.

Awalnya aku mengira ini bukti kalau aku pemalas atau rusak. Tapi kemudian aku lihat apa yang sebenarnya tercapai dalam dua-tiga jam itu. Bukan nol. Sebagian besar tugas pentingku selesai. Laporan yang kustressi selama enam jam? Waktu nulisnya cuma lima puluh menit. Presentasi yang kukira butuh seharian? Sembilan puluh menit kerja beneran. Sisanya cuma duduk, merasa bersalah karena nggak kerja, tapi juga nggak sepenuhnya hadir sama anak-anak.

Jadi aku buat keputusan yang terasa menakutkan sekaligus membebaskan. Aku berhenti mencoba kerja delapan jam. Aku berhenti mengukur produktivitas dari lamanya duduk di meja. Aku mulai mengukurnya dari apakah hal penting selesai, dan apakah aku masih punya cukup energi untuk jadi manusia yang lumayan enak diajak ngobrol saat makan malam.

Jadwal “cukup baik”-ku

Ini jadwalku sekarang. Bukan berarti bakal cocok buat semua orang, tapi ini yang bekerja buat aku sebagian besar waktu — dan itu janji terbaik yang bisa diberikan sistem mana pun.

1. Blok fokus pertama jam 8.30 sampai 10.30. Suamiku yang anter anak-anak ke sekolah dan preschool, jadi rumah agak sepi. Di blok ini aku nggak buka email. Nggak scroll medsos. Aku pilih satu atau dua tugas yang benar-benar penting hari itu, dan kerjakan dengan perhatian penuh. Dua jam selesai, laptop kututup. Nggak ada usaha merangsek lima menit lagi. Berhenti.

Setelah itu aku jadi ibu utuh selama beberapa jam. Jemput si bungsu, makan siang bareng, dengerin ceritanya dengan sungguh-sungguh — bukan sambil setengah kerja dan setengah angguk. Kadang aku tidur siang kalau perlu. Kadang aku cuci baju sambil dengerin podcast. Ini bukan waktu yang terbuang. Ini istirahat yang otakku butuhkan biar bisa kerja lagi di blok berikutnya.

2. Blok kerja kedua jam 13.30 sampai 15.00. Blok ini lebih pendek karena energiku udah menurun di siang hari, dan anak-anak pulang sekitar jam 15.30. Aku pakai waktu ini untuk email, tugas administrasi, dan hal-hal yang nggak butuh fokus dalam. Kalau ada meeting, aku jadwalkan di sini. Aku juga pakai waktu ini untuk review apa yang sudah selesai di pagi hari dan mutusin apa yang beneran darurat untuk dibawa ke besok.

Setelah jam tiga, aku selesai. Laptop kututup. Kadang kumasukkan ke laci biar nggak tergoda buat cek “satu hal lagi” sementara anak-anak cerita tentang hari mereka. Ini kebiasaan yang paling susah dibangun. Keyakinan bahwa aku harus terus bekerja memang tertanam dalam. Tapi ini yang selalu kuingatkan ke diri sendiri: kalau aku berhenti jam tiga, aku bisa hadir buat keluarga. Dulu waktu aku kerja sampai jam lima atau enam, aku nggak beneran kerja dan nggak beneran jadi ibu. Aku cuma stres di dua ruangan sekaligus.

Bonus yang nggak kuduga

Bagian yang mengejutkanku: ketika aku mengizinkan diri untuk kerja lebih sedikit, justru lebih banyak yang selesai. Bukan lebih banyak tugas total, tapi lebih banyak tugas yang benar. Karena aku cuma punya tiga setengah jam, aku berhenti buang waktu pada hal-hal yang nggak penting. Aku berhenti pura-pura kerja. Aku berhenti merapikan to-do list untuk ketiga kalinya daripada benar-benar mengerjakan isinya.

Aku juga berhenti merasa bersalah sepanjang waktu, dan itu membebaskan banyak energi mental yang nggak kusangka. Rasa bersalah itu melelahkan. Merasa harus kerja pas lagi parenting, dan harus parenting pas lagi kerja — itu siksaan khusus yang nggak membantu siapa pun. Ketika aku berkomitmen untuk hadir sepenuhnya di setiap peran, keduanya jadi lebih baik.

Anak-anakku juga ngerasa bedanya. Anakku yang lima tahun bilang minggu lalu kalau dia suka sekarang pas aku jemput karena “mama liat muka aku pas aku ngomong”. Komentar itu lebih menusuk daripada review kinerja mana pun. Selama bertahun-tahun aku hadir secara fisik. Tapi aku nggak benar-benar ada.

Yang kulakukan saat semuanya berantakan

Beberapa hari, jadwal “cukup baik”-ku benar-benar kacau. Si bungsu bangun sakit. Internet mati pas video call. Blok pagiku habis untuk urusan childcare darurat dan kerja nol besar. Ini masih sering terjadi, dan masih bikin frustrasi.

Tapi sekarang aku punya rencana untuk hari-hari itu, bukan cuma panik. Aku bertanya satu hal: apa satu hal terpenting yang harus terjadi hari ini? Bukan daftar terpanjang. Bukan daftar paling impressive. Satu hal yang kalau selesai, hari ini nggak berarti total sia-sia. Kadang satu hal itu cuma butuh sepuluh menit. Kadang satu jam. Pokoknya aku kerjakan itu, lalu lepaskan sisanya.

Cara ini nggak glamor. Nggak bakal bikin aku diundang ke podcast produktivitas. Tapi ini menjaga kewarasanku, menjaga keluarganku cukup bahagia, dan menjaga pekerjaanku di level yang bisa kubanggakan. Itu cukup. Lebih dari cukup.

Buat yang masih berusaha jadi segalanya

Aku ingin bilang langsung ke siapa pun yang ada di posisiku enam bulan lalu. Kamu nggak gagal karena nggak bisa kerja delapan jam tanpa gangguan dengan anak kecil di rumah. Kamu nggak gagal karena rumahmu berantakan, karena to-do list nggak pernah habis, karena kadang kamu milih tidur siang daripada balas email. Kamu manusia yang melakukan jumlah hal yang mustahil, dan fakta bahwa kamu masih muncul setiap hari itu sudah berarti.

Lama sekali aku percaya bahwa aplikasi atau sistem yang tepat bakal memperbaiki segalanya. Sebagian besar aplikasi itu sudah kuhapus. Yang memperbaiki segalanya ternyata menerima kenyataan. Jamku terbatas. Energiku terbatas. Anak-anakku bukan gangguan dari pekerjaanku. Mereka alasan aku bekerja, dan mereka juga butuh aku dengan cara yang nggak muat di spreadsheet.

Hari kerja “cukup baik” bukan tentang puas dengan biasa-biasa saja. Ini tentang jujur. Tentang melihat apa yang benar-benar kamu punya, bukan apa yang kamu pikir harus kamu punya, lalu membangun sesuatu yang berfungsi dari situ. Buatku, itu artinya tiga setengah jam fokus, banyak interupsi yang sudah kupelajari untuk diterima, dan batas keras jam tiga sore yang membuatku bisa jadi ibu tanpa rasa bersalah.

Beberapa minggu aku kerja lebih banyak. Beberapa minggu kurang. Dunia belum kiamat. Tempat kerjaku belum pecat aku. Anak-anakku kelihatan lebih bahagia. Dan aku jelas lebih jarang nangis di kamar mandi. Itu yang kusebut kemenangan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *