Dulu saya pikir perawatan diri itu bangun jam 5 pagi, yoga 20 menit, journaling tiga halaman, sambil minum jus seledri sebelum rumah mulai berisik. Saya coba. Bertahan empat hari. Hari kelima saya pencet snooze, nyeret badan ke dapur jam setengah delapan, dan udah ngerasa gagal sebelum sempat gosok gigi. Ini cerita saya tentang perawatan diri realistis yang beneran bekerja — tanpa filter Instagram.
Itu dua tahun lalu. Sejak itu saya belajar satu hal yang gak pernah muncul di feed Instagram: perawatan diri realistis yang bikin kamu ngerasa lebih buruk tentang diri sendiri itu bukan perawatan diri. Itu cuma to-do list biasa, cuma dibungkus lebih cantik.
Saya mau cerita gimana perawatan diri realistis saya sekarang. Gak fotogenik. Gak ada matching pajama set, gak ada timelapse sunrise, gak ada gratitude journal bersampul kulit. Tapi ini punya saya, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ini gak terasa kayak beban.
Rutinitas Pagi: Inti Perawatan Diri Realistis Saya
Alarm saya bunyi jam 6:30. Bukan jam 5. Saya pernah coba jam 5 pagi selama berbulan-bulan. Saya ngantuk terus, gak peduli berapa banyak video YouTube yang bilang ini bakal mengubah hidup. Beberapa tubuh emang gak cocok sama pagi buta. Tubuh saya salah satunya, dan saya udah berhenti nganggep itu sebagai kelemahan karakter.
Hal pertama yang saya lakukan: bikin kopi. Bukan bulletproof coffee dengan MCT oil dan collagen peptide. Kopi biasa aja. Sambil nunggu kopinya jadi, saya berdiri di depan jendela dapur dan lihat ke luar sekitar dua menit. Gak meditasi. Gak latihan pernapasan. Cuma lihat langit dan nunggu otak saya nyala pelan-pelan. Kedengarannya terlalu kecil untuk dianggap penting, tapi justru ini bagian paling konsisten dari hari saya.
Setelah kopi, saya stretching. Bukan yoga 30 menit. Lima menit, maksimal sepuluh kalau punggung bawah lagi kenceng. Sentuh jari kaki, putar bahu, twist kanan kiri. Dulu saya pikir stretching cuma “berharga” kalau dilakukan sebagai workout penuh. Sekarang saya rasa aturan itu diciptakan oleh orang yang jualan program olahraga.
Saya juga cuci muka. Cuma air di pagi hari, terus pelembap dengan SPF. Udah, itu aja. Rutinitas pagi saya cuma tiga: kopi, stretching, cuci muka. Semuanya makan waktu sekitar 20 menit. Saya gak ngerasa buru-buru atau udah ketinggalan sebelum hari mulai.
Rak skincare yang saya sumbangkan
Pernah suatu masa saya punya tujuh produk skincare berbeda. Toner, serum, essence, eye cream, night cream, exfoliant, sheet mask. Saya beli karena ada yang bilang skin barrier saya “terganggu” di TikTok, dan saya percaya begitu aja. Muka saya malah breakout lebih parah dari sebelumnya.
Akhirnya saya sumbangin hampir semuanya. Sekarang saya pakai tiga benda: pembersih wajah yang gentle, pelembap dasar, dan sunscreen. Kulit saya kelihatan lebih bagus dibanding waktu pakai rutinitas tujuh langkah. Saya gak bisa kasih penjelasan ilmiahnya — saya cuma tahu muka saya pengennya ditinggal sendiri. Mungkin sebagian besar dari kita gak beneran butuh 10-step skincare routine, apalagi kalau kulit kita baik-baik aja sebelum kita mulai ngoprek.
Saya masih suka skincare, kok. Kadang seneng coba pelembap baru. Tapi saya berhenti memperlakukan ini kayak PR sekolah. Kalau sesekali lupa cuci muka malam-malam, saya gak panik. Dunia belum kiamat juga sejauh ini.
Journaling, tapi gak kayak yang diajarkan
Morning pages katanya bisa membuka kreativitas. Saya coba tiga minggu — setiap pagi, tiga halaman, tulis tangan, stream of consciousness. Hari ke-10 saya udah nulis “saya gak tahu mau nulis apa” berulang-ulang cuma buat memenuhi kuota.
Sekarang saya journaling mungkin dua kali seminggu. Kadang sekali. Saya gak punya notebook fancy bersampul kulit. Saya pakai buku spiral murahan dari toko alat tulis dan pulpen yang mungkin bekas dari lobi hotel. Saya nulis ketika memang ada sesuatu di kepala, bukan karena jam menunjukkan waktunya journaling.
Beberapa entry cuma dua kalimat: “Hari ini saya kesal sama semua orang dan gak tahu kenapa. Mungkin saya cuma capek.” Itu seluruh entry-nya. Dan anehnya, nulis itu lebih membantu daripada tiga halaman morning pages yang dipaksakan. Ada sesuatu tentang menamai perasaan, bahkan dengan cara termalas sekalipun, yang bikin semuanya terasa lebih ringan.
HP-nya taruh di ruangan lain
Yang ini susah banget diubah. Dulu saya ngecek HP sebelum kaki nyentuh lantai. Email, WhatsApp, Twitter, berita — begitu akhirnya saya berdiri, otak saya udah menyerap 45 menit isi pikiran dan masalah orang lain. Gak heran kepala udah penuh sebelum sarapan.
Sekarang HP saya ngecas di ruang tamu semalaman. Saya gak lihat HP sebelum kopi dan stretching selesai, artinya minimal 25 menit pagi tanpa layar. Ini bukan digital detox total — saya masih pakai HP seharian. Tapi 25 menit di pagi hari itu milik saya, dan gak ada yang boleh ganggu.
Saya juga matiin hampir semua notifikasi. WhatsApp masih bunyi karena urusan keluarga, tapi Instagram, email, aplikasi berita — semua silent. Saya cek ketika saya mau, bukan ketika mereka suruh. Butuh sekitar seminggu buat berhenti ngerasain getaran hantu di saku. Sekarang saya gak kebayang balik lagi.
Jalan Kaki: Jangkar Perawatan Diri Realistis
Saya pernah nulis sebelumnya tentang jalan pagi saya dan rasa bersalah yang dulu selalu muncul. Versi singkatnya: saya jalan kaki hampir setiap pagi sekitar 20 menit. Tanpa HP, tanpa podcast, tanpa agenda. Cuma jalan.
Awalnya saya merasa egois. Saya mikirin semua hal yang “seharusnya” saya kerjakan — cucian piring, laundry, email kerja, meal prep. Tapi setelah beberapa minggu, saya sadar sesuatu. Gak ada yang benar-benar nyari saya selama 20 menit itu. Gak ada yang sadar saya pergi. Satu-satunya orang yang memonitor produktivitas saya adalah saya sendiri.
Jalan kaki adalah satu-satunya kebiasaan dalam perawatan diri realistis yang akan saya bela habis-habisan. Bukan karena ada studi yang bilang bagus buat kesehatan kardiovaskular, tapi karena setelah hampir dua tahun melakukannya, saya bisa lihat sendiri bedanya di mood saya ketika skip. Saya lebih cranky, lebih gampang buyar fokusnya, kurang sabar sama orang sekitar. Jalan kaki 20 menit mengembalikan keseimbangan ke arah yang lebih fungsional. Saya gak sepenuhnya paham kenapa ini bekerja. Saya cuma tahu memang bekerja.
Yang membantu: belajar memblokir waktu untuk diri sendiri seperti saya memblokir meeting dan deadline. Kalau ada di kalender, saya anggap serius. Kalau gak ada, saya anggap opsional — yang artinya gak akan pernah terjadi.
Soal rasa egois itu
Ini yang saya harap ada yang bilang ke saya bertahun-tahun lalu: merawat diri sendiri itu bukan egois. Merasa bersalah karena istirahat gak bikin kamu mulia. Itu cuma bikin kamu capek.
Saya berasal dari lingkungan yang mengharapkan perempuan memberi terus sampai habis. Istirahat itu sesuatu yang harus “dibeli” setelah semua urusan beres. Masalahnya, semua urusan gak pernah beres. Selalu ada piring kotor lagi, email lagi, orang lain yang butuh sesuatu dari kamu.
Saya harus belajar — dan masih belajar — bahwa saya boleh mengambil ruang di hidup saya sendiri. Jalan kaki 20 menit, kopi tenang sebelum orang lain bangun, buku catatan tempat saya nulis apa pun yang saya mau — semua ini gak mengambil apa pun dari orang yang saya sayangi. Justru sebaliknya, ini bikin saya jadi versi diri yang lebih sabar dan lebih hadir.
Anak-anak saya gak butuh ibu yang udah centang semua to-do list. Mereka butuh ibu yang gak jalan dengan tangki kosong. Kesadaran ini butuh waktu lebih lama dari yang ingin saya akui.
Kalau kamu tanya harus mulai dari mana
Saya gak ngasih nasihat — siapa saya menentukan apa yang hidup kamu butuhkan? Tapi kalau kamu tanya apa yang berhasil buat saya, saya bakal bilang: pilih satu hal. Bukan 47 hal. Satu hal yang bikin kamu ngerasa jadi manusia, bukan mesin penyelesai tugas. Lakukan konsisten selama dua minggu dan lihat apa yang terjadi.
Buat saya, itu jalan kaki. Buat kamu, mungkin baca novel 15 menit, atau duduk di balkon tanpa HP, atau mandi lebih lama tanpa buru-buru. Intinya bukan apa yang kamu pilih. Intinya kamu memperlakukan itu sebagai sesuatu yang gak bisa ditawar, seperti kamu memperlakukan janji dokter.
Kamu gak butuh alarm jam 5 pagi. Gak butuh rak skincare 12 langkah. Gak butuh journaling tiga halaman setiap pagi atau meditasi 40 menit atau minum apa pun yang dilabeli “activated.” Kamu cuma butuh sesuatu yang kecil dan itu milikmu sendiri, dan kamu harus berhenti minta maaf karena menginginkannya.
Saya masih mencari-cari sampai sekarang. Beberapa minggu saya jalan tiap hari, journaling dua kali, dan ngerasa udah menemukan rumusnya. Minggu lainnya saya scroll HP sejam sebelum bangun dari kasur dan skip jalan kaki empat hari berturut-turut. Gak apa-apa. Itu jadi manusia. Tujuannya bukan sempurna. Tujuannya adalah gak lupa bahwa kamu juga penting.

Tinggalkan Balasan