Aku tidak mulai berjalan karena ingin menurunkan berat badan atau mencapai target langkah atau akhirnya menjadi seseorang yang berolahraga. Aku mulai berjalan karena aku sedikit demi sedikit kehilangan akal, dan aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Saat itu Februari. Rumah terasa sempit. Pikiranku terasa keras. Aku sudah terlalu lama di dalam — hari-hari kabur bersamaan, dinding yang sama, layar yang sama, lingkaran kekhawatiran yang sama tentang hal-hal yang tidak bisa kunamai. Suatu sore, aku memakai sepatu tanpa rencana dan berjalan keluar pintu. Aku tidak membawa headphone. Aku tidak melacak rute. Aku hanya menggerakkan tubuhku ke satu arah sampai aku merasa ingin berbalik.
Itu sembilan bulan lalu. Aku sudah berjalan hampir setiap hari sejak itu. Bukan untuk langkah. Bukan untuk kebugaran. Untuk kepalaku.
Bagaimana Rasanya Berjalan Sebenarnya
Sepuluh menit pertama mengerikan. Otakku masih di dalam rumah, masih menjalankan daftar mental hal-hal yang seharusnya kulakukan. Aku setengah yakin ini buang-buang waktu. Lalu, sekitar menit kelima belas, sesuatu bergeser. Pikiranku melambat. Mereka berhenti memantul dan mulai mengembara. Aku memperhatikan warna pintu depan seseorang. Seekor anjing di jendela. Cara cahaya mengenai pohon tertentu jam 4 sore. Hal-hal kecil. Hal-hal nyata. Hal-hal yang ada di luar kepalaku sendiri.
Saat aku berbalik, biasanya aku sudah punya setidaknya satu pemikiran yang tidak bisa kumiliki sambil duduk di meja kerja. Ide untuk sesuatu yang membuatku buntu. Sudut baru pada masalah yang sudah kuputari. Atau kadang tidak ada sama sekali — hanya keheningan, yang adalah jenis obatnya sendiri.
Aku tidak berniat menjadikan berjalan sebagai praktik self-care. Ia hanya menjadi begitu, seperti hal-hal terbaik: bukan karena seseorang menyuruhku, tapi karena aku merasa lebih baik setelah melakukannya dan ingin merasa seperti itu lagi.
Kenapa Ini Bertahan Ketika Semua yang Lain Gagal
Aku sudah mencoba rutinitas olahraga sebelumnya. Keanggotaan gym. Tantangan yoga. Rencana lari. Bahkan yoga untuk burnout pun akhirnya terasa seperti kewajiban. Semuanya dimulai dengan motivasi dan berakhir dengan rasa bersalah. Terlalu banyak gesekan. Terlalu banyak langkah antara memutuskan melakukannya dan benar-benar melakukannya. Berkendara ke gym. Ganti baju. Cari tahu peralatannya. Merasa bodoh. Pulang.
Berjalan tidak punya semua itu. Penghalangnya adalah sepatu. Itu saja. Aku tidak perlu jago melakukannya. Aku tidak perlu merasa kuat atau terkoordinasi atau mampu. Aku hanya perlu menaruh satu kaki di depan yang lain dan terus berjalan sampai otakku tenang.
Kadang aku berjalan dua puluh menit. Kadang satu jam. Kadang aku berjalan cepat karena marah tentang sesuatu. Kadang aku berjalan lambat karena sedih. Jalan kaki menemuiku di mana pun aku berada. Ia tidak menuntut suasana hati atau pola pikir. Ia hanya mengambil apa yang kubawa dan, akhirnya, membuatnya terasa sedikit lebih ringan.
Efek Samping yang Tak Terduga
Aku tidur lebih nyenyak. Tidak dramatis, tapi terasa. Di hari-hari aku berjalan, aku tertidur lebih cepat dan lebih jarang terbangun di malam hari. Tubuhku terasa kurang kaku di pagi hari. Aku punya lebih banyak kesabaran dengan anak-anakku di sore hari, yang biasanya saat kesabaranku paling tipis.
Tapi hal terbesarnya: aku sekarang mengenal lingkunganku. Aku tahu rumah mana yang punya kucing ramah, sudut mana yang dapat cahaya terbaik saat golden hour, jalan mana yang punya pohon ek raksasa yang terlihat berbeda setiap musim. Ini adalah potongan pengetahuan kecil yang tidak berguna. Mereka tidak akan membuatku lebih produktif atau sukses. Tapi mereka membuatku merasa tinggal di suatu tempat, bukan hanya eksis di dalam sebuah bangunan.
Kalau kamu selama ini menyuruh diri sendiri harus lebih banyak berolahraga, mungkin berhentilah menyuruh diri sendiri. Sama seperti saat aku berhenti memaksakan diri jadi morning person, menerima diriku apa adanya justru membuka pintu perubahan yang sesungguhnya. Mungkin pakai saja sepatu dan berjalan keluar pintu. Bukan untuk langkah. Bukan untuk kalori. Hanya untuk melihat apa yang terjadi ketika kamu memberi pikiranmu ruang untuk bernapas.

Tinggalkan Balasan