Aku Akhirnya Tahu Kenapa Jam 1 Siang Selalu Ngantuk (dan Bukan Cuma Karena Nasi)

wanita mengalami ngantuk siang hari di meja kerja penurunan energi circadian

Setiap hari, di antara jam 12.45 sampai 1.15 siang, ngantuk siang hari selalu datang. Kelopak mataku mulai terasa berat, seperti ada magnet kecil yang menariknya ke bawah. Otakku, yang sepuluh menit sebelumnya masih bisa mikir jernih, tiba-tiba nge-lag kayak video YouTube yang buffering di sinyal lemah. Dan badanku cuma pengen meringkuk di bawah meja dan tidur siang kayak kucing.

Selama bertahun-tahun aku selalu menyalahkan makan siang. “Pasti karena nasinya,” batinku. “Kebanyakan karbo.” Dan memang, apa yang kita makan itu berpengaruh. Tapi begitu aku penasaran dan mulai mencari tahu, ternyata ngantuk siang hari itu jauh lebih menarik, dan jauh lebih sedikit hubungannya sama kurangnya kemauan, daripada yang selama ini aku kira.

Ngantuk Siang Hari Bukan Malas. Ini Biologi.

Ada satu hal yang tidak pernah diberitahu ke aku: tubuh manusia punya jadwal penurunan energi yang sudah terprogram persis di tengah hari. Namanya circadian dip, dan ini sama alamiahnya seperti rasa kantuk yang datang tengah malam. (Alodokter menjelaskan bagaimana ritme sirkadian mengatur siklus energi harian tubuh kita.)

Jam biologis kita, yang sama persis yang membangunkan kita pagi hari dan membuat kita mengantuk malam hari, punya dua titik rendah dalam siklus 24 jam. Satu terjadi sekitar jam 2 sampai 4 pagi, makanya bahkan orang yang suka begadang pun akhirnya tumbang. Satu lagi datang di antara jam 1 sampai 4 siang. Di jam-jam itu, suhu inti tubuh kita turun sedikit, dan otak melepaskan melatonin dalam jumlah kecil. Hormon yang sama yang membantu kita tidur di malam hari.

Jadi waktu kamu berjuang melawan kantuk di rapat jam 2 siang, kamu bukan lemah. Kamu bukan tidak disiplin. Kamu cuma mamalia yang melakukan hal yang memang dilakukan tubuh mamalia.

Para ilmuwan menyebutnya “post-lunch dip,” tapi istilah itu menyesatkan karena penurunan energi ini terjadi baik kamu makan siang atau tidak. Makanan memang membuatnya lebih terasa, karena makanan tinggi karbohidrat mengalihkan aliran darah ke sistem pencernaan dan memicu respons insulin yang bisa memperkuat rasa kantuk. Tapi penurunan energi dasarnya adalah jam biologismu yang bekerja, bukan nasi gorengmu yang sedang memberontak.

Apa yang Aku Coba (dan yang Benar-Benar Membantu)

Begitu aku berhenti menganggap ngantuk jam 1 siang sebagai kegagalan moral, aku mulai bereksperimen. Beberapa hal tidak mempan. Beberapa hal benar-benar mengubah siang hariku. Ini yang berhasil:

1. Aku berhenti makan siang di depan laptop.

Selama berbulan-bulan aku menyuapkan makanan sambil menatap spreadsheet, dan ternyata itu memperburuk semuanya. Bukan karena makanannya, tapi karena otakku sama sekali tidak dapat transisi antara mode kerja dan mode istirahat. Sekarang aku makan di tempat lain. Meja dapur, balkon, sofa. Di mana pun yang bukan 60 sentimeter meja yang sudah aku tatap sejak jam 8 pagi. Kedengarannya sederhana banget, tapi perpindahan fisik sekecil itu ngasih sinyal ke otak: kita jeda dulu. Kita bisa lanjut lagi.

2. Aku mulai jalan kaki lima menit setelah makan.

Dulu aku selalu mendengus kalau denger saran ini. Terus aku coba. Jalan kaki singkat membantu otot-otot menyerap glukosa dari aliran darah dengan lebih efisien, jadi lonjakan gula darah setelah makan tidak separah biasanya. Cahaya alami, bahkan di hari mendung, juga mengirim sinyal bangun langsung ke otak. (Aku pernah cerita lebih panjang tentang kebiasaan jalan kakiku yang bukan untuk olahraga.) Aku tidak melakukan apa-apa yang ambisius. Cuma muterin blok. Kadang masih pakai sandal rumah. Intinya bukan olahraga. Intinya ngasih tahu sistem tubuh: “Hei, kita masih melek, ya.”

3. Aku ngecek asupan airku, dan hasilnya memalukan.

Di jam 1 siang pada hari biasa, yang sudah masuk ke tubuhku biasanya cuma satu cangkir besar kopi dan kira-kira nol teguk air putih. Dehidrasi ringan adalah salah satu penyebab kelelahan yang paling tersembunyi. Kebanyakan dari kita jalan-jalan dalam kondisi sedikit dehidrasi tanpa sadar. Sekarang aku simpan botol di meja dan berusaha menghabiskan setengahnya sebelum makan siang. Beberapa hari ingat, beberapa hari lupa. Di hari-hari aku ingat, otak siang hariku terasa lebih jernih.

4. Aku berhenti melawan dan mulai bekerja sama dengan tubuhku.

Perubahan ini dampaknya paling besar dibanding semua yang lain. Alih-alih menyerang penurunan energi siangku dengan lebih banyak kafein, lebih banyak kemauan, dan lebih banyak kritik diam-diam ke diri sendiri, aku mulai memperlakukan jam 1 sampai 2 siang sebagai zona kerja ringan. Tugas yang butuh otak beneran, kayak nulis atau perencanaan atau keputusan sulit, aku simpan untuk pagi dan sore. (Terkait: aku pernah berhenti memaksakan diri jadi morning person dan mulai bekerja sama dengan ritme alami tubuhku.) Slot setelah makan siang aku pakai untuk email, admin, merapikan file. Jenis kerjaan yang bisa dikerjakan otak dalam mode hemat daya.

Memberi diriku izin untuk melambat di jam-jam itu (mirip seperti yang terjadi waktu aku detoks digital 48 jam), alih-alih memperlakukannya seperti ujian karakter yang terus-menerus aku gagalkan, justru membuatku lebih produktif secara keseluruhan. Aku tidak lagi membakar energi untuk melawan biologi tubuhku sendiri.

Jadi Bukan Cuma Karena Nasi

Lain kali kelopak matamu mulai berat di jam 1 siang, ingat ini: tubuhmu tidak rusak. Tubuhmu menjalankan sistem operasi kuno yang menyertakan periode istirahat terjadwal tepat di tengah hari. Budaya-budaya yang mengenal tidur siang sudah paham ini sejak lama, jauh sebelum kita mengubah makan siang jadi perlombaan lima belas menit di depan meja.

Kamu bisa mengatur ulang apa yang kamu makan. Kamu bisa menggerakkan badan sedikit. Kamu bisa minum air putih alih-alih cuma kopi. Hal-hal itu memang membantu. Tapi satu hal paling berguna yang aku lakukan adalah berhenti memperlakukan penurunan energi siangku seperti cacat karakter yang harus ditaklukkan.

Beberapa hari aku masih pengen tidur telungkup di atas keyboard. Bedanya sekarang, aku tidak lagi menganggap itu tanda kemalasan. Itu cuma tanda aku manusia dengan jam tubuh manusia, sama seperti yang lain.

Comments

Satu tanggapan untuk “Aku Akhirnya Tahu Kenapa Jam 1 Siang Selalu Ngantuk (dan Bukan Cuma Karena Nasi)”

  1. […] jadi statis, kadang aku lakukan satu putaran sebelum meraih kopi lagi. (Aku pernah nulis kenapa ngantuk jam 1 siang itu bukan cuma karena nasi.) Ini tidak menggantikan kopi. Tapi ngurangin rasa capek yang gelisah […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *