Aku Merindukan Suamiku Padahal Dia Ada di Sampingku

Woman exercising during period light workout menstruation self-care

Kami duduk di sofa, masing-masing sibuk dengan ponsel sendiri, baby monitor berdengung pelan di antara kami. Aku menatapnya, benar-benar menatap, dan berpikir: Kapan terakhir kali kami ngobrol tentang sesuatu yang bukan soal anak atau daftar belanja? Aku tidak bisa mengingatnya. Malam itu aku sadar, laki-laki yang kunikahi sudah berubah jadi seseorang yang kukelola rumah bersamanya, bukan seseorang yang benar-benar terhubung denganku. Menjaga pernikahan setelah punya anak adalah hal yang tidak pernah diperingatkan siapa pun kepadaku — ini tidak terjadi begitu saja.

Ini tidak terjadi semalam. Tidak ada yang bangun pagi dan memutuskan untuk memperlakukan pasangannya seperti rekan bisnis. Ini terjadi dalam langkah-langkah kecil yang hampir tidak terlihat. Pertama kali kamu terlalu capek untuk bercinta. Kedua kali kamu melewatkan kencan malam karena pengasuh anak membatalkan dan kamu malas mencari penggantinya. Ketiga kali kamu memilih tidur daripada ngobrol sepuluh menit. Setelah beberapa tahun begini, kamu menatap ke seberang meja makan dan sadar kamu tahu persis merek popok yang dia beli, tapi tidak tahu apa yang bikin dia khawatir belakangan ini.

Menghilang Pelan-pelan

Waktu anak pertama, kami sebenarnya lumayan oke. Kami orang tua baru, semuanya seru sekaligus menakutkan, dan kami berpegangan satu sama lain seperti orang di atas rakit penyelamat. Kami tos-tosan setiap kali berhasil bikin anak tidur. Kami berbisik-bisik di tempat tidur setelah bayi terlelap, membahas warna pup dan jadwal menyusu seperti ilmuwan yang meneliti spesies baru yang menakjubkan.

Anak kedua yang menghancurkan kami. Tidak dramatis, bukan lewat pertengkaran atau krisis. Lebih seperti ban bocor pelan yang tidak kamu sadari sampai kamu berkendara di atas velg. Tiba-tiba tidak ada lagi waktu untuk berbisik-bisik di tempat tidur karena dua anak berarti selalu ada yang bangun, selalu ada yang butuh sesuatu. Percakapan kami menyusut jadi logistik saja: siapa jemput, siapa antar, sudah bayar uang sekolah belum, perlu beli tisu basah lagi tidak. Fungsional. Efisien. Sama sekali kosong dari hal-hal yang membuat kami jadi kami.

Aku mulai merindukannya meskipun dia ada di ruangan yang sama. Itu jenis kesepian yang aneh, duduk di sebelah pasanganmu dan merasa seperti berjarak bermil-mil. Aku kadang mendapati diriku mengingat seperti apa kami dulu sebelum punya anak, lalu merasakan nyeri yang tidak bisa kunamai. Duka, mungkin. Duka untuk versi pernikahan kami yang spontan, penasaran, dan sesekali tidak bertanggung jawab. Versi di mana kami bisa memutuskan jam 9 malam untuk pergi beli es krim begitu saja, tanpa menghitung-hitung jadwal tidur dan logistik car seat.

Malam Ketika Sesuatu Pecah

Titik puncaknya bukan pertengkaran. Lebih buruk. Keheningan.

Suatu malam setelah kedua anak akhirnya tertidur, suamiku duduk di sebelahku dan berkata, “Hei. Kita baik-baik aja?” Dan aku membuka mulut untuk bilang “tentu saja” karena itu jawaban otomatis, kan? Tapi kata-kata itu tidak mau keluar. Aku malah menangis. Tangis jelek. Jenis tangisan di mana kamu tidak bisa bicara karena terlalu sibuk berusaha bernapas.

Dia tidak mencoba memperbaikinya. Dia cuma duduk di sana dan menggenggam tanganku. Dan setelah aku tenang, kami akhirnya ngobrol sungguhan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. Bukan tentang jadwal atau tanggung jawab. Tentang bagaimana kami berdua merasa kesepian, berdua kelelahan, berdua yakin pasangan pasti baik-baik saja karena tidak ada yang bilang sebaliknya. Kami sudah menganggap diam berarti semua baik-baik saja, padahal sebenarnya diam itu artinya kami sudah berhenti mencoba.

Yang Kami Coba (dan yang Benar-benar Berhasil)

Aku ingin cerita bahwa kami mulai kencan mingguan, konseling pasangan, dan liburan akhir pekan rutin. Kami tidak melakukan itu. Kami punya dua anak kecil dan anggaran yang tidak cukup untuk babysitter dua kali sebulan, apalagi terapi. Semua saran hubungan yang pernah kubaca mengasumsikan sumber daya yang tidak kami miliki.

Jadi kami mencoba hal-hal kecil saja. Kecil sekali, hampir memalukan untuk diakui. Kami membuat aturan: setelah anak-anak tidur, tidak boleh pegang ponsel selama lima belas menit. Cuma lima belas. Kadang kami ngobrol. Kadang kami cuma duduk, capek, nonton acara bareng. Intinya bukan aktivitasnya, tapi kehadirannya. Benar-benar berada di momen yang sama alih-alih kabur ke layar masing-masing.

Kami juga mulai pakai aplikasi notes bareng di ponsel yang kami namai “Hal yang Kuperhatikan” — tempat kami meninggalkan catatan kecil untuk satu sama lain. Tidak ada yang dalam. “Kamu tadi nangani tantrum dengan bagus.” “Masakan pasta itu enak banget.” “Makasih udah biarin aku tidur lebih lama Sabtu kemarin.” Kedengarannya cheesy, aku tahu. Aku sendiri memutar mata minggu pertama mencobanya. Tapi membaca catatan-catatan kecil itu, terutama di hari-hari berat, mengingatkanku bahwa kami masih saling melihat, masih saling menghargai, bahkan ketika kami lupa mengatakannya dengan suara.

Hal yang paling mengejutkan? Kami mulai melakukan sesuatu yang kusebut “kencan sofa.” Begitu anak-anak tidur, kami bikin sesuatu yang simpel bareng, kayak popcorn atau mi instan, lalu makan di ruang tamu sambil nonton film yang tidak terlalu kami pedulikan. Filmnya cuma suara latar. Intinya adalah duduk bersebelahan dalam gelap, kaki saling tindih di bawah selimut, sekadar eksis bersama tanpa agenda. Beberapa malam kami hampir tidak bicara. Beberapa malam kami ngobrol sepanjang film sampai harus mundurin filmnya. Dua-duanya tetap dihitung sebagai koneksi.

Ini Bukan Perbaikan, Ini Perawatan

Aku tidak akan bilang pernikahan kami sekarang sempurna. Itu bohong. Kami masih punya minggu-minggu di mana kami pada dasarnya cuma rekan kerja yang berbagi tempat tidur. Bedanya, sekarang aku menyadarinya lebih cepat. Aku mengenali perasaan itu ketika mulai merayap masuk, perasaan hanyut ke kehidupan paralel, dan aku langsung bilang sesuatu alih-alih menunggu sampai makin parah.

Ini sesuatu yang tidak ada yang kasih tahu soal menjaga hubungan tetap hidup setelah punya anak: bukan soal gestur romantis megah atau kencan malam terjadwal atau nasihat apa pun yang dijual majalah di kasir. Ini soal memberi perhatian. Soal menghadap ke pasanganmu di momen-momen kecil alih-alih memalingkan muka. Seseorang pernah bilang, hubungan tidak bertahan karena keputusan besar, tapi karena ribuan keputusan mikro kecil setiap harinya. Itu terasa benar buatku, jauh lebih benar daripada “pesan pijat pasangan” yang tidak pernah terjadi.

Satu hal lain yang tidak ada yang sebut? Kamu harus benar-benar menyukai pasanganmu. Bukan cinta, suka. Cinta bisa bertahan dari kewajiban dan sejarah bersama untuk waktu yang lama. Tapi menyukai seseorang butuh memperhatikan mereka, menganggap mereka menarik, menikmati kebersamaan dengan mereka. Setelah punya anak, gampang banget mencintai pasanganmu dari sejarah bersama sambil benar-benar lupa apakah kamu masih menyukai mereka sebagai manusia. Itu pertanyaan yang sekarang kutanyakan ke diri sendiri di minggu-minggu sulit: Aku suka dia hari ini, nggak? Kalau jawabannya tidak, sesuatu harus berubah.

Waktu kami mulai usaha menyambung kembali ini, aku tidak yakin sesuatu yang sederhana bisa memperbaiki jarak yang terasa begitu besar. Tapi aku mendapati bahwa ritual kecil yang rutin, seperti Sunday reset, lebih banyak membantu koneksi daripada menunggu akhir pekan romantis yang tidak pernah datang. Dan ketika kami bertengkar soal sesuatu, yang masih sering terjadi, aku berusaha mengingat apa yang kupelajari dari pertengkaran terburuk kami, bahwa jadi benar itu kurang penting dibanding jadi baik. Aku juga sadar bahwa menghindari percakapan soal uang tidak melindungi kedamaian, cuma menumpuk ketegangan untuk nanti.

Kami Masih Mencari Tahu

Minggu lalu aku menatap suamiku dari seberang meja makan, dan dia sedang cerita tentang sesuatu yang bikin frustrasi di kantor. Bukan dengan nada mengeluh, cuma berbagi. Aku mendengarkan. Dia tanya pendapatku. Kami ngobrol empat puluh lima menit sementara anak-anak main di ruang tamu, sesekali menyela tapi kebanyakan membiarkan kami punya momen percakapan yang aneh dan tak terduga ini. Di suatu titik aku sadar aku menikmatinya, percakapannya itu sendiri, bukan cuma fakta bahwa kami sedang ngobrol. Aku menyukainya malam itu. Benar-benar suka.

Menurut riset dari Gottman Institute, pasangan yang menjaga ritual kecil koneksi setiap hari setelah punya anak melaporkan kepuasan hubungan yang jauh lebih tinggi lima tahun kemudian. Itulah versi pernikahan setelah punya anak yang tidak dipajang orang di Instagram. Bukan liburan romantis atau bunga kejutan. Tapi duduk di meja makan yang berantakan, ngobrolin rekan kerja yang menyebalkan, dan merasa benar-benar tertarik. Menangkap dirimu berpikir ya, dia masih orangku di hari Selasa acak ketika tidak ada yang spesial terjadi.

Kalau kamu sedang di fase itu sekarang, fase di mana kalian pada dasarnya cuma teman sekamar dengan rekening bersama dan jadwal parenting, aku tidak punya saran buatmu. Aku cuma bisa bilang apa yang kuharap seseorang pernah bilang ke aku dulu: merindukan pasanganmu saat dia duduk di sebelahmu bukan tanda pernikahanmu rusak. Itu tanda kamu masih cukup peduli untuk menyadari jarak itu. Jarak itu bisa diperbaiki. Tidak perlu liburan atau dana terapi. Cuma perlu satu orang bilang “kita baik-baik aja?” dan satu orang lagi cukup berani untuk bilang yang sebenarnya.

Kami masih mencari tahu. Beberapa minggu baik, beberapa minggu kami mundur lagi ke mode logistik. Tapi mundurnya sekarang lebih singkat karena kami sudah membangun kebiasaan untuk menangkapnya. Itu satu-satunya perbedaan antara dulu dan sekarang: kami memberi perhatian. Kami bilang sesuatu. Kami mencoba lagi.

Comments

Satu tanggapan untuk “Aku Merindukan Suamiku Padahal Dia Ada di Sampingku”

  1. […] seperti pekerjaan penuh waktu kedua. Aku punya suami yang kucintai, anak-anak yang kusayangi, dan pernikahan yang berusaha keras kujaga. Tapi aku tidak punya teman yang mengerti seperti apa Selasa siangku yang […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *