Tiga tahun lamanya aku berusaha jadi orang yang paham soal self-care. Jurnal dengan sampul berlapis emas, aplikasi meditasi dengan streak berhari-hari, bangun jam 5 pagi selama enam hari sampai tubuhku protes dengan sakit kepala dua hari nonstop. Rak skincare penuh, praktik gratitude aku jalani dengan konsistensi orang saleb, dan ada perasaan makin lama makin besar yang bilang aku melakukan semuanya dengan cara yang salah. Makin keras aku coba, makin buruk rasanya. Dan makin buruk rasanya, makin banyak produk dan ritual baru aku beli untuk memperbaikinya. Aku nggak sadar itu lingkaran setan sampai aku keluar darinya.
Yang memutus lingkarannya bukan momen ajaib. Cuma hari Kamis sore di tengah minggu yang buruk. Anak-anak sakit, tumpukan pakaian berkembang biak dengan cara yang nggak masuk akal, dan aku nggak punya percakapan nyata dengan orang dewasa selama tiga hari. Rutin kecantikanku juga terlewat empat hari berturut-turut karena aku terlalu lelah untuk berdiri tegak. Di atas kertas aku gagal total soal self-care. Tapi di suatu tempat dalam kelelahan itu, aku berhenti peduli soal melakukannya dengan benar. Aku berhenti mencatat. Berhenti membandingkan. Aku cuma lakukan apa pun yang butuh energi paling sedikit untuk survive satu jam ke depan. Dan baru saat itulah aku mulai merasa lebih baik.
Ketika berhenti mencoba justru jadi awalnya
Cara lama aku merawat diri bersifat kompetitif. Bukan dengan orang lain, tapi dengan versi imajiner diriku sendiri yang sudah menguasai segalanya. Versi itu yoga saat fajar, menulis jurnal dengan kaligrafi anggun, dan mengoleskan serum dengan gerakan ke atas yang entah kenapa terasa seperti berkontribusi pada perdamaian dunia. Aku nggak bisa bersaing dengan orang yang nggak ada. Jadi aku terus kalah. Setiap sesi meditasi yang terlewat adalah kegagalan. Setiap malam aku tertidur tanpa rutin lengkap adalah bukti aku nggak cukup berusaha. Seluruh kerangka berpikirnya menganggap self-care adalah sesuatu yang bisa dimenangkan, seperti olahraga. Tapi ini bukan olahraga, dan nggak ada hadiah untuk jadi yang terbaik kecuali kelelahan.
Sekitar waktu itu aku baca sebuah artikel. Bukan yang memberi instruksi dengan judul seperti “10 Cara Mengubah Pagi Anda Sekarang.” Lebih seperti esai pribadi dari seseorang yang mengakui rutin self-care-nya berantakan dan dia baik-baik saja dengan itu. Aku nggak mau mengaku butuh izin untuk berhenti berusaha keras. Tapi membacanya adalah pertama kalinya aku mempertimbangkan kalau mungkin masalahnya bukan aku. Mungkin masalahnya adalah tekanan untuk jadi ahli dalam sesuatu yang seharusnya terasa natural.
Jadi aku jalankan eksperimen kecil. Selama seminggu aku akan lakukan apa pun yang kurasakan ingin kulakukan, tanpa aturan soal apa yang dihitung dan apa yang tidak. Kalau aku mau cuci muka dengan air lalu tidur, itu dihitung. Kalau aku mau duduk di lantai sambil makan biskuit dan scroll ponsel, itu juga dihitung. Satu-satunya aturan adalah aku nggak boleh menghakimi diriku sendiri. Awalnya sulit karena otakku terus mencoba menambah aturan. “Ini bukan self-care yang beneran,” bisiknya. Tapi aku abaikan bisikan itu, dan setelah beberapa hari bisikannya semakin pelan.
Yang terjadi saat aku berhenti memaksakan diri
Hal pertama yang berubah adalah jalan kaki. Dulu aku nggak menganggap jalan kaki kalau nggak minimal tiga puluh menit, pakai sepatu khusus, dengan rute tercatat dan podcast siap diputar. Aturan-aturan itu membuatku jalan kaki mungkin seminggu sekali kalau sedang beruntung, karena siapa yang punya waktu tiga puluh menit tanpa gangguan ditambah energi untuk berpakaian rapi demi itu? Setelah aku berhenti menghitung, aku malah jalan kaki lebih sering. Sepuluh menit sambil menunggu anakku selesai aktivitas. Lima belas menit mengelilingi kompleks karena aku perlu keluar rumah, bukan untuk olahraga tapi untuk menjaga kewarasan. Aku jalan pakai sandal. Jalan tanpa pencatatan. Jalan tanpa tujuan sama sekali, dan itulah satu-satunya alasan aku terus melakukannya. Jalan kaki jadi kebiasaan bukan karena aku disiplin, tapi karena aku membuatnya semudah mungkin sehingga menolaknya lebih sulit daripada meneruskannya.
Hal yang sama terjadi dengan menulis jurnal. Aku punya tiga jurnal dengan sampul indah dan kertas begitu halus rasanya berdosa menulis sesuatu yang biasa di dalamnya. Aku membelinya dengan harapan estetikanya akan memicu kebiasaan. Tidak terjadi. Yang akhirnya berhasil adalah buku tulis spiral murahan yang kuambil dari stok perlengkapan sekolah putriku, yang jenisnya sering nyangkut di lengan baju. Aku menulis di dalamnya hampir setiap pagi, bukan karena indah, tapi karena cukup jelek sehingga aku nggak merasa tekanan untuk menulis dengan indah di dalamnya. Aku menulis kalimat panjang tanpa henti. Aku menulis daftar. Aku menulis keluhan soal seberapa sedikit tidurku. Nggak ada yang dalam. Tapi itu milikku, dan itu teratur, dan ini adalah bentuk menulis jurnal pertama yang bertahan lebih dari dua minggu.
Bukan berarti estetika nggak penting. Penting kalau itu mengurangi gesekan. Tapi bagiku, alat mewah justru menambah gesekan. Alat-alat itu membuatku merasa harus tampil melakukan self-care daripada hanya menjalankannya. Buku tulis jelek dan jalan kaki tanpa rencana berhasil karena terlalu biasa untuk gagal.
Skincare jadi lebih pendek dan lebih membosankan
Rutin skincareku sekarang lebih pendek dari yang pernah kulakukan dalam enam tahun terakhir. Juga lebih membosankan. Aku pakai pembersih yang harganya lebih murah dari makan siangku, pelembab dari merek drugstore yang kudapat setelah coba-coba, dan sunscreen yang kubeli dalam jumlah banyak. Itu saja. Serum-serum tersimpan di laci. Masker sudah kedaluwarsa. Jade roller entah di mana di bawah wastafel kamar mandi, dan aku nggak pernah merindukannya sedikit pun.
1. Pembersih. Kupakai di malam hari dan kadang pagi kalau wajahku terasa berminyak. Nggak setiap kali. Hanya kalau masuk akal.
2. Pelembab. Merek yang sama, toples yang sama, gerakan tangan yang sama. Aku nggak lihat ke cermin saat mengoleskannya. Aku cuma usap-usap dan lanjutkan hidupku.
3. Sunscreen. Nggak bisa dinegosiasikan. Kuoleskan sambil kopi sedang diseduh karena itu adalah celah pagiku yang paling bisa kandalkan.
Rutin yang lebih pendek bertahan karena nggak butuh kekuatan tekad. Kekuatan tekad adalah sumber daya terbatas, dan aku memakainya untuk hal-hal seperti nggak berteriak ke anak-anak dan mengingat membayar tagihan listrik. Aku nggak mau menghabiskannya untuk langkah skincare keempat yang mungkin bikin wajahku 7 persen lebih bercahaya. Aku mengerti beberapa orang menikmati ritual yang lebih panjang, dan itu valid. Tapi aku tidak. Aku mentolerirnya karena kupikir aku seharusnya begitu. Sekarang aku cuma lakukan yang berhasil, dan kulitku terlihat baik. Lebih dari baik, sejujurnya. Lebih tidak iritasi. Lebih tidak stres. Mungkin karena aku sendiri lebih tidak stres.
Pelajaran dari batasan yang buruk
Sebelum aku berhenti berusaha jadi ahli self-care, batasanku bersifat dramatis atau tidak ada sama sekali. Aku akan mengatakan ya untuk semuanya selama berbulan-bulan, lalu meledak dan membatalkan semuanya. Tidak ada di antaranya. Pendekatan dramatis tidak berhasil karena bersifat reaktif, bukan sengaja. Aku menetapkan batasan untuk kabur dari situasi, bukan untuk melindungi energiku sejak awal.
Perubahannya terjadi secara bertahap. Aku mulai dengan satu batasan kecil: berhenti memeriksa pesan kerja setelah jam 8 malam. Itu saja. Tidak ada pengumuman dramatis. Tidak ada balasan email otomatis. Hanya perjanjian pribadi dengan diriku sendiri. Minggu pertama sulit karena aku terus mengangkat ponsel dari kebiasaan. Tapi setelah beberapa minggu, batasan jam 8 malam jadi otomatis. Tanpa kusadari, tidak adanya stres kerja di malam hari membuatku lebih hadir di malam itu. Aku lebih banyak membaca buku. Aku tidur lebih nyenyak, yang membuat pagiku lebih mudah meskipun aku tetap bukan orang yang bangun jam 5 pagi.
Dari kemenangan kecil itu aku tambah batasan lain: berhenti menerima undangan yang sebenarnya nggak kuinginkan. Bukan yang penting. Bukan yang berarti bagi orang-orang kucintai. Yang opsional. Yang hanya kukatakan ya karena merasa berkewajiban atau bersalah. Aku mulai mengatakan “Maaf aku nggak bisa” tanpa diikuti alasan. Ketidaknyamanannya bertahan mungkin tiga kali. Setelah itu, rasanya biasa saja. Aku sadar kebanyakan orang nggak peduli dengan alasanmu. Mereka cuma butuh jawaban. Dan “tidak” adalah jawaban yang lengkap.
Aku masih kesulitan dengan batasan. Aku masih mengatakan ya pada hal-hal yang seharusnya tidak. Aku masih membalas pesan di jam-jam aneh karena merasa bersalah meninggalkan seseorang dalam keadaan belum dibaca. Tapi polanya sudah berubah. Aku tahu batasan yang baik itu rasanya seperti apa sekarang, dan aku bisa membedakan antara batasan yang melindungiku dan batasan yang cuma membuatku terlihat mengesankan di atas kertas. Yang sunyi, yang tidak ada yang bertepuk tangan untuknya, itulah yang paling penting.
Rutin pagi yang menipuku jadi konsisten
Aku nggak punya rutin pagi dalam definisi internet. Aku nggak bangun pagi. Aku nggak meditasi atau peregangan atau minum jus seledri. Yang kupunya adalah rangkaian tindakan yang terjadi di kebanyakan pagi, bukan karena aku merencanakannya, tapi karena muncul dari apa yang sebenarnya kulakukan kalau dibiarkan sendiri.
Aku bangun saat anak-anak bangun, yang waktunya berbeda-beda. Aku minum air dari keran. Aku buat kopi dan meminumnya sambil berdiri di dapur, menatap nggak ke mana-mana. Itulah hal terdekat yang kupunya untuk kesadaran penuh, dan biayanya nol rupiah. Aku cuci muka dan pakai sunscreen. Aku menulis di buku tulis spiral jelek itu selama beberapa menit sambil kopi mendingin. Itulah seluruh rutinnya. Mungkin butuh lima belas menit dan nggak mengesankan untuk diceritakan. Tapi itu milikku, dan aku melakukannya hampir setiap hari karena nggak ada yang aspirasional di dalamnya untuk dilawan.
Kurasa itulah rahasianya, kalau memang ada. Buat sampai membosankan. Rutin glamor yang dijual di media sosial didesain untuk dikonsumsi, bukan dipertahankan. Itu hiburan yang menyamar sebagai instruksi. Rutin yang sebenarnya, yang benar-benar kaupertahankan, mungkin terlihat biasa saja di kamera. Itu bukan kekurangan. Itu bukti bahwa itu bekerja untukmu alih-alih terlihat bagus untuk orang asing.
Melepaskan rasa bersalah
Rasa bersalah adalah yang paling sulit dilepaskan. Ada suara di dalam yang bilang mengambil waktu untuk diri sendiri adalah egois, bahwa kamu seharusnya melakukan sesuatu yang produktif, bahwa istirahat harus diperoleh melalui penderitaan yang cukup. Suara itu paling keras saat kamu paling lelah, yang juga saat kamu paling butuh istirahat. Itu desain yang kejam.
Yang membantu bukan melawan suara itu, tapi mengakuinya. “Aku dengar kamu,” kataku. “Dan aku tetap akan jalan kaki.” Suara itu nggak hilang. Tapi berhenti punya kekuatan veto. Aku berjalan tanpa merasa bersalah, meski cuma lima belas menit. Aku membelikan diriku sendiri hal-hal kecil tanpa perlu membenarkannya dengan produktivitas. Aku duduk di sofa dan scroll tanpa menghukum diriku dengan rasa malu setelahnya. Nggak ada yang terdengar revolusioner saat kutuliskan. Tapi menjalankannya terasa seperti melatih otot yang selama ini dilatih ke arah berlawanan selama puluhan tahun.
Aku masih punya hari-hari di mana aku nggak melakukan apa-apa untuk diriku sendiri. Hari-hari di mana self-care adalah mandi dan makan sandwich dan tertidur sebelum semua orang. Dulu aku menghitungnya sebagai kegagalan. Sekarang aku menghitungnya sebagai bertahan hidup, yang juga bentuk perawatan. Perawatan nggak harus indah. Nggak harus konsisten. Nggak harus terlihat seperti apa pun dari unggahan Instagram. Yang penting itu milikmu, dan kamu yang menentukan apa yang dihitung.
Aku masih nggak ahli soal self-care menurut standar lama. Tapi aku berhenti peduli dengan standar itu, dan itulah yang membuat perbedaan. Aku lakukan lebih sedikit sekarang. Merencanakan lebih sedikit. Membeli lebih sedikit. Dan entah kenapa, aku merasa lebih dirawat daripada saat aku berusaha begitu keras. Ironinya nggak luput dariku.

Tinggalkan Balasan