Semuanya dimulai pada Jumat malam dengan satu tindakan sederhana yang menyeramkan: aku mematikan ponselku. Bukan silent. Bukan mode pesawat. Mati. Layar kecil itu menjadi hitam, dan sesaat aku hanya berdiri di dapur merasakan campuran paling aneh antara kelegaan dan panik.
Aku sudah berniat melakukan detoks digital selama berbulan-bulan. Mungkin bertahun-tahun. Setiap kali aku menangkap diriku scrolling Instagram sementara anak perempuanku mencoba menunjukkan gambar, atau memeriksa email saat makan malam, atau meraih ponsel begitu aku punya lima detik keheningan, aku bilang pada diri sendiri aku harus istirahat. Tapi aku tidak pernah melakukannya. Karena apa yang akan kulakukan dengan diriku sendiri tanpa layar?
Pertanyaan itu, lebih dari apa pun, adalah kenapa aku perlu menjawabnya.
Jam Pertama adalah yang Terburuk
Aku tidak tahu harus apa dengan tanganku. Aku terus meraih saku yang sengaja kosong. Aku berjalan ke ruang tamu, duduk, berdiri, berjalan ke dapur, membuka kulkas tanpa alasan, menutupnya, dan menyadari aku mondar-mandir di rumahku sendiri seperti hewan kebun binatang.
Ini adalah withdrawal. Tidak ada yang dramatis , tidak ada gemetar, tidak ada sakit kepala. Hanya kekosongan yang dalam dan tidak nyaman di tempat ponselku biasanya tinggal. Aku tidak menyadari betapa banyak ruang mentalku yang ia tempati sampai aku mengusirnya.
Suamiku menontonku dari sofa dengan hiburan ringan. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya. “Aku tidak tahu,” kataku jujur. “Aku merasa kehilangan satu anggota tubuh.”
Apa yang Terjadi Ketika Kebisingan Berhenti
Sekitar empat jam kemudian, sesuatu bergeser. Perasaan gelisah meraih yang kosong memudar, dan di tempatnya datang sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak kurasakan: kebosanan yang murni, tanpa gangguan.
Awalnya, kebosanan terasa seperti masalah yang harus dipecahkan. Tapi kemudian aku membiarkannya duduk di sana, dan sesuatu yang tidak terduga terjadi. Pikiranku, yang tiba-tiba tidak diisi oleh tetesan notifikasi dan berita utama dan opini orang lain yang konstan, mulai mengembara ke tempat-tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya.
Aku teringat buku yang sudah lama ingin kubaca. Aku memulainya malam itu dan membaca enam puluh halaman dalam sekali duduk , yang terbanyak yang pernah kubaca untuk kesenangan dalam hitungan bulan.
Sabtu pagi, alih-alih meraih ponsel begitu bangun, aku berbaring di tempat tidur selama sepuluh menit hanya menatap cahaya yang masuk melalui tirai. Sepuluh menit. Kapan terakhir kali aku melakukan itu? Mungkin tidak pernah, di era smartphone.
Aku membuat pancake bersama anakku dan tidak memfotonya. Aku jalan-jalan dan tidak melacak langkahku. Aku sudah menjadikan berjalan bukan untuk olahraga sebagai kebiasaan, tapi kali ini lebih berbeda lagi — tanpa ponsel aku benar-benar melihat sekeliling. Aku duduk di teras dengan secangkir teh dan hanya menonton pepohonan bergerak tertiup angin. Tanpa podcast di telinga. Tanpa buku audio. Tanpa suara latar sama sekali.
Bagian Tersulit
Ini tidak mudah, dan aku tidak ingin pura-pura mudah. Ada momen-momen sulit. Ketika aku ingin mencari sesuatu dan tidak bisa. Ketika aku khawatir melewatkan sesuatu yang penting. Ketika keheningan terasa terlalu keras dan aku hampir menyerah.
Tapi pada Minggu malam, ketika aku akhirnya menyalakan ponselku kembali, aku merasa berbeda. Lebih tenang di dalam. Lebih lapang. 47 notifikasi yang menungguku tiba-tiba terlihat bukan seperti daftar tugas, melainkan seperti kebisingan yang telah kupilih untuk kulepaskan, meskipun hanya untuk satu akhir pekan.
Apa yang Aku Pertahankan
Aku tidak naif untuk berpikir aku bisa hidup tanpa ponsel. Aku punya anak. Aku punya tanggung jawab. Ponsel adalah alat yang aku butuhkan.
Tapi aku mempertahankan beberapa hal dari akhir pekan itu. Aku sekarang meninggalkan ponselku di ruangan lain saat makan , setiap makan, tanpa pengecualian. Aku tidak mengeceknya selama satu jam pertama setelah bangun. Dan sebulan sekali, aku melakukan detoks 24 jam, bukan karena aku kecanduan, tapi karena aku ingin mengingat bahwa dunia tidak berakhir ketika aku meletakkan layar.
Kalau kamu sudah berpikir untuk mencoba detoks digital tapi terus menundanya, mulailah kecil. Jangan mulai dengan akhir pekan. Mulailah dengan makan malam. Taruh ponsel di laci, bukan hanya telungkup di meja. Lihat apa yang terjadi dalam keheningan. Sama seperti saat aku berhenti memaksakan diri jadi morning person, ternyata melepas kebiasaan lama membuka ruang untuk sesuatu yang lebih baik.
Kamu mungkin akan terkejut dengan apa yang kamu temukan di sana.

Tinggalkan Balasan